Gerakan Sejuta Sepatu

8/recent

Berugak Lombok Ikut Serta Program Grebeg Pasar Lombok yang Diadakan Kominfo

by Wednesday, July 24, 2019
Pasar Masbagik Lombok Timur


Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengadakan kegiatan Gerebg Pasar untuk “menggrebeg” UMKM dan pedagang di pasar-pasar yang ada di Lombok. Hal ini dilakukan tentu saja untuk membantu pelaku UMKM agar bisa membuka toko online, selain dengan toko / kios yg mereka miliki secara offline. 

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj. Selly Andayani, M.Si, memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada pelaku UMKM yang hadir dan mau menimba ilmu untuk bisa mengembangkan penjualan produknya secara online.


“Pemerintah Provinsi NTB sekarang sudah punya platform digital marketplace untuk bapak ibu bisa berjualan secara online, namanya i-shop, jadi bapak ibu bisa lebih mudah dalam berjualan baik ke dalam maupun luar negeri melalui i-shop ini, karena sudah kita terapkan standar produknya masing-masing,” terang Ibu Selly. 

Dalam sambutan sekaligus membuka acara tersebut itupun, beliau berterima kasih kepada kemenkominfo dan komunitas relawan (Berugak Lombok) yang telah mensukseskan jalannya program Grebeg Pasar UMKM Go Online ini.

“ini harus kita dukung dan kita manfaatkan sebaik mungkin, agar bapak ibu yang masih berjualan cuma mengandalkan pasar tradisional mulai menambah channel berjualannya ke online,” tambahnya.

Acara pembukaan Grebeg Pasar UMKM Go Online ini diadakan secara simbolis pada hari senin, 17 Juni 2019 di Aula Kantor Camat Pringgasela, Lombok Timur yang dihadiri oleh Kasubdit pengembangan ekonomi digital, pariwisata, transportasi dan perdagangan, kementerian Kominfo, Bapak Sumarno. Hadir juga perwakilan dari Telkom, PT. POS, Ditjen Pajak, Camat, CEO Berugak Lombok dan Shopee Indonesia, serta 125 pelaku UMKM. 

Di NTB, program Grebeg Pasar ini digelar 18-29 Juni 2019 di enam pasar yakni Pasar Pancor, Pasar Aikmel, Pasar Masbagik, Pasar Pringgabaya, Pasar Mandalika, dan Pasar Kebon Roek. Target Pedagang dan pelaku UMKM yg ingin dicapai minimal 2000 pedagang. 

Dalam program ini, para relawan pandu digital yg telah dilatih akan turun langsung ke pasar-pasar untuk membantu para pelaku UMKM untuk melakukan registrasi dan mengelola toko online seperti di shopee dan Buka Lapak, dengan harapan setelah bisa berjualan online, masyarakat bisa lebih banyak pesanan dan meningkatkan pendapatannya sehari-hari.

Sumber : kanalntb.com (edited).

Benarkah Pariwisata Sebagai Sumber Bencana?

by Wednesday, March 20, 2019

Saya akan memulai cerita ini atas dasar kecintaan saya terhadap bumi paer Lombok. Begitu juga dengan orang-orang yang akan selalu mencintainya. 

Apakah saudara pernah mengingat atau mendengar berita atau cerita-cerita dari kakek atau emah buyut mengenai bencana terbesar sepanjang sejarah yang pernah terjadi di Lombok? Kalau saudara pernah, pada tahun berapa hal itu terjadi, dan apakah penyebabnya adalah pariwisata seperti yang kebanyakan orang hari ini katakan bahwa penyebab utama dari sebuah bencana adalah karena banyaknya tempat maksiat (baca: tempat wisata), tuduhan-tuduhan semacam itu seringkali membuat hati saya sebagai pelaku wisata ngilu. 

Baiklah, silahkan cari di google angka yang saya terakan di sini, ‘’1257,’’ angka tersebut akan membawa Anda pada sebuah negeri yang terkubur. 

Kita semua pasti sepakat ketika diajak memerangi maksiat, siapapun akan sepakat, karena sependek pengetahuanku, agama-agama melarang umatnya terkait hal itu. Tetapi mari kita berfikir dulu sembari mencari refrensi dari sumber dan dalil yang jelas jika memponis aktifias wisata dan sarana penunjang pariwisata sebagai sumber bencana. Karena itu, kita perlu banyak belajar, banyak bertanya kepada ahli agama sehingga kita tidak tersesat dengan apa yang kita yakini, padahal apa yang kita yakini itu belum tentu kebenarannya, hanya Allah yang maha mengetahui. 

Mari kita biasakan membaca untuk mencari tahu info yang lebih luas terkait perkembangan industri pariwisata dunia. Semua negara yang memiliki alam dan keanekaragaman hayati serta warisan buadaya berlomba-lomba mengembangkan dan membangun industri parwisata. Tidak mengenal negara Islam maupun non islam, yang ada hanya mejalin kerjasama bilateral antar negara dalam mewujudkan kemakmuran negara dan rakyat melalui sektor pariwisata. 

Negara-negara islam justru banyak menjadikan pariwisata menjadi prioritas pembangunan untuk mendongkrak prekonomian negara mereka, salah satunya adalah Negara Uni Emirat Arab. Sadar akan sumberdaya alamnya berupa minyak sudah menipis bahkan mau habis, negara tersebut dalam kurun waktu 15 tahun terahir fokus mengembangkan infrastruktur pariwisata. Siapa yang tidak mengenal Dubai yang memiliki daya saing pariwisata yang sangat tinggi dan telah dikunjungi 14 juta wisatawan dalam setahunnya. Banyak negara islam bahkan seperti Malaysia, Turki , Mesir, Maroko, Arab Saudi dan banyak negara ilsam lainya juga menajadikan industri pariwisata sebagai sumber terbesar penghasil devisa negara dan untuk memakmurkan rakyatnya. 

Kita tidak perlu bicara jauh-jauh ke Dubai sana, cukup kita berbicara tentang negara tetangga kita yaitu Negara Malaysia yang merupakan negara islam. Pada tahun 2017 Malaysia di kunjungi 25,9 juta wisatawan dan pada taun 2020 menanrgetkan wisatwan datang ke Malaysia sebanyak 36 juta wisatawan asing. Itu artinya, menjadi lucu ketika kita berteriak ingin memerangi maksiat dengan menyetop segala bentuk aktifitas yang berbau pariwisata. Kita adalah negara hukum yang memiliki dasar sebagai petunjuk mengambil sebuah tindakan. 

Negara lewat Undang-undangnya sudah mengatur tentang kepariwisataan yaitu UU no 10 tahun 2009, di sana sudah jelas di atur tentang pariwisata dengan lugas. Jadi tidak ada alasan bagi siapapun yang ingin menghentikan orang untuk berkarya memlaui bidang kepariwisataan. Berwisata adalah bagian dari Hak Asasi Manusia, karena itu tidak ada alasan bagi sipapun menghambat apalagi mencegat orang-orang yang sedang melakukan perjalanan selama mereka tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma yang ada. 

Kita tinggal di negara hukum, karena itu jelas kita tidak boleh bertindak semau kita dengan mengatasnamakan apapun. Jika ada yang salah maka tugas kita bersama meluruskanya dan jika ada yang belum sempurna maka tugas kita untuk menyempurnakanya. Bukan dengan melakukan provokasi untuk merusak barang yang tidak berdosa, jika kita mengaku sebagai orang yang beriman mari kita sama-sama duduk bersama. Saya yakin dan percaya ajaran islam itu tidak mengajarkan kekerasan kepada umat manusia, apalagi melakukan kekerasan kepada saudara sendiri yang seiman dan seagama. 

Bencana sudah ada yang atur, tinggal bagaimana kita menselaraskan kehidupan ini dengan alam, manusia dan Tuhan. Bencana itu banyak penyebabnya, panas bumi tidak akan pernah berkhianat, pemerintah yang korup, anak durhaka pada orangtuanya, gunung-gunung dilubangi, hutan digunduli, seorang ustad memperkosa santriwatinya, manusia lupa berbagi pada saudaranya, dan masih banyak lagi penyebab lainnya. 

Pariwisata adalah salah satu jalan ke luar dari derita kemiskinan, tinggal bagaimana kita mengemas dan memperbaiki sistemnya. 

Penulis : Royal Sembahulun, seorang pemuda yang memiliki cita-cita untuk mensejahterakan setiap masyarakat di sekitarnya.

ROCKY GERUNG BERTANDANG KE PULAU SERIBU MASJID

by Thursday, March 07, 2019
Gambar: antaranews.com
Saya membaca melalui berita daring dan media sosial, bahwa kedatangan Rocky Gerung (RG) ke Lombok untuk sebuah acara talkshow "Eksistensi Melahirkan Perubahan" yang akan digelar di Hotel Aruna Senggigi Sabtu (9/3) menuai kontroversi. Sebagian masyarakat menolak sembari menggelar demo, dan sebagian yang lain menyambut dengan antusias dan siap mengawal acara tersebut. Di Lombok, barangkali seperti halnya di tempat-tempat lain, sejak 2014 isu politik telah mendominasi percakapan sehari-hari masyarakat. Setidaknya hal itu dapat diteropong melalui konten-konten di media sosial. Bahkan keterlibatan kalangan “arus bawah” dalam perbincangan politik di media sosial lebih massif ketimbang “arus menengah-atas”.

Dengan demikian, dalam konteks itu, maka pilpres telah menjelma budaya pop. Ia menjadi santapan sehari-hari para warganet. Ya, sejak dulu kita memang telah familiar dengan jargon indoktrinasi: “demokrasi adalah pesta rakyat”. Meskipun pada kenyataanya, bahwa siapapun pemenangnya pada 17 April nanti, "pesta rakyat akan berhenti, dan pesta pora para elit akan tiba". 

Sejak RG kerap manggung di gelar wicara ILC TVOne, ia mendadak populer. Lalu oleh para penggemarnya, ia ditahbiskan menjadi “presiden akal sehat”. Ia benar-benar menjadi idola banyak orang. Popularitas RG telah turut menyeret “ diskursus filsafat”—dalam pengertian yang longgar--, menjadi konsumsi publik. Sebab melaui mulut RG, masyarakat menjadi akrab dengan gaya bicara yang “retoris, kritis, silogis dan logis”. 

Diantara sekian banyak tema ILC yang di mana RG hadir sebagai narasumber dan terlibat dalam perdebatan, pada ujungnya dia selalu tiba pada dua kata pamungkas, yakni “dungu” dan “akal sehat” . Dua kata itulah kemudian yang menjadi legasi terbaik RG kepada para penggemarnya., termasuk sebagain masyarakt Lombok. Sehingga dalam debat-debat kusir perihal pilpres di media sosial, para penggemar RG selalu menuduh lawan debatnya sebagai dungu, dan hanya merekalah yang memiliki akal sehat. 

Sebetulnya , RG sudah sejak lama kerap merafal mantra “akal sehat” itu. Yakni sejak di kelas–kelas filsafat yang diampunya di UI Jakarta. Jargon akal sehat ini kemudian mulai mengemuka di ruang publik secara lebih luas ketika RG bergabung di Partai serikat Rakyat Independen (SRI) yang berdiri pada 22 Mei 2011. Tak tanggung-tanggung RG menempati dua posisi penting dalam partai itu; yakni Anggota Majelis Pertimbangan Partai (besama dua nama bekan lainnya: Rahman Tolleng dan Toding Mulya Lubis) dan ketua bidang Pendidikan dan Politik. 

Dalam sebuah perdebatan kala itu di sebuah stasiun televisi, RG tampil sebagai delegasi parta SRI berhadapan melawan Rizal Ramli. Dalam debat itu RG banyak menggunakan diksi politik akal sehat dan politik intelektual untuk mencitrakan Partai-nya. Partai SRI saat itu mengadang-gadang Sri Mulyani sebagai kandidat calon Presiden yang akan diusung pada pilpres 2014. Rizal Ramli sebagai lawan debat RG agak meragukan, dan sedikit pesimis pada gagasan dan masa depan partai baru itu. Akhirnya Rizal Ramli terbukti benar. Dan tentu saja jargon akal sehat gagal populer. Sebab Partai SRI akhirnya gagal tiba di musim semi, dan layu sebelum berkembang. Justru Jokowi–lah yang tiba-tiba mucul di 2014, dan berhasil melenggang ke Istana. Barangkali Rocky sadar, bahwa kegagalan itu disebakan oleh wacana kepartaian yang agak elitis dan intelektualis, sehingga gagal populis. 

Dalam konteks dan situasi politik yang lain, RG menemukan momentumnya. Menjelang piplres 2019 Jargon akal sehat ia pakai kembali dalam setiap forum yang dihadirinya. Dan percobaan kali ini ternyata berhasil. Jargon akal sehat menemukan garis takdirnya, mekar merona. Ceramah-ceramah Rocky yang dulu hanya berlansung di ruang-ruang kelas dan forum diskusi di Jakarta yang elitis, kini segmennya meluas, ia ceramah di acara-acara PKS, Kampus-kampus Muhammadiyah, bahkan hingga ke daerah-daerah di pondok-pondok pesantren. 

Lalu pertanyannya: apa yang menyebabkan orang begitu menggandrungi RG beserta jargon akal sehatnya? Tentu banyak yang akan menjawab: karena kelincahan gaya bicara dan diksi-diksinya yang memukau. Jawaban itu cukup fair, dan kita bisa menerima alasan itu. Namun, hal itu bukanlah faktor satu-satunya. Faktor lain yang lebih dominan adalah—meminjam bahasa Lacan—adanya “fantasi fundamental” masyarakat. Artinya, dalam konteks pilpres terdapat relasi subjek-objek, yakni pemilih dan yang akan dipilih (paslon capres). Fantasi fundamental itulah yang menjadi prakondisi narasi kebenaran pengetahuan rasional tentang objek hasrat yang diyakini secara irasional, bahkan sentimental. Sehingga, fantasi fundamental ini dapat memungkinkan satu objek menjadi memliki “nilai hasrat” untuk diperjuangkan mati-matian. 

Sederhanya begini, masyarakat sebagai subyek, Prabowo-Sandi sebagai obyek. Fantasi fundamental masyarkat tentang Prabowo-Sandi adalah pasangan calon pemimpin ideal yang pro ummat Islam. Sehingga fantasi fundamental itu menghadirkan ‘nilai hasrat’, yakni memilih Prabowo-sandi adalah “demi kejayaan ummat dan kemenangan Islam”. Oleh karenanya, bagi sebagian orang, Prabowo-Sandi layak diperjuangakn mati-matian. Dalam kaitan itu, sebetulnya masyarakat hanya sedang menikmati fantasinya sendiri atas objek (Prabowo Sandi) demi memenuhi kehendak libidinal (hasrat akan kemenangan Islam). 

Maka, dalam persfektif Lacanian, “fantasi fundamental” itulah sebetulnya yang membuat cukup banyak masyarakat Lombok antusias menyambut kehadiran RG. RG oleh sebagain besar pendukung Prabowo dianggap sosok yang mampu mewakili hasrat, aspirasi dan harapan mereka dalam konteks pilpres 2019. Namun demikian, dalam konteks ini, RG bukanlah tujuan akhir (the ultimate goal), justru kemenangan Prabowo-lah sebagai tujuan akhir. Pada titik itu, maka kemudian euporia masyarakat, khususnya di Lombok terhadap RG adalah semacam “euporia semu”. Hal itu dapat diuji “jika” seandainya April mendatang Prabowo berhasil memenangi pilpres. Dan sebagaimana telah dikatakan RG bahwa ia akan mengkritik Prabowo 12 menit setelah ia dilantik. Jika RG menepati janjinya untuk mengkritik Prabowo sekeras-kerasnya seperti ia mengkritik Jokowi hari-hari ini. Maka masih mungkinkah dia akan tetap diidolakan oleh para pendukung Prabowo? 

Soal lain yang berkait dengan fenomena kedatangan RG ke Lombok dan pilpres 2019 adalah bagaimana posisi dan otoritas para figur lokal trio Nahdliyin: NW Pancor, NW Anjani, dan NU di Lombok? Mampukah mereka memengaruhi massa di arus bawah untuk memenangkan Jokowi di Pilpres 2019 di Lombok? Sebab dalam pengamatan di media sosial-- meskipun hal ini tentu tak bisa dijadikan alat ukur pasti-- bahwa militansi para pendukung Prabowo masih cukup kuat di Lombok. Jika Prabowo kembali menang seperti di 2014 lalu, maka hal ini menunjukkan kemenangan media sosial dan aktor-aktor endors politik semacam RG, Neno, babe Haikal atas otoritas figur-figur lokal NW dan NU. 

Tulisan ini tidak akan menyimpulkan apa-apa, tapi hanya akan menyisakan tanya: “akal sehat” has become political, and when will politics become more “akal sehat”?

Penulis: Said Muhammad, Intelektual di Berugak Lombok

Powered by Blogger.