Desaku Telah Kembali

Dewasa ini pola kehidupan sosial budaya sehari-hari masyarakat Desa Jerowaru Kabupaten Lombok Timur telah menunjukkan berbagai pengaruh yang sangat kuat, yang disebut sebagai pola kehidupan global. 

Masyarakat Jerowaru mengalami berbagai perubahan cara hidup, gaya hidup, bahkan pandangan hidup mereka. Maka, perubahan itu telah mengancam keberadaan tradisi lokal yang ditinggalkan nenek moyang, antara lain warisan budaya, kebiasaan, nilai, identitas dan simbol-simbol.
Pengaruh globalisasi telah menimbulkan pergulatan atau nilai-nilai budaya lokal dan global yang semakin tinggi intensitasnya. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan atau panutan oleh masyarakat pendukungnya tidak jarang mengalami perubahan karena nilai-nilai budaya global dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin mempercepat proses perubahan tersebut.

Globalisasi membawa prinsip budaya modernitas sehingga memunculkan segudang permasalahan sosial dan mengancam peradaban manusia. Melalui idiologi kultur konsumerisme, globalisasi telah banyak menimbulkan konflik, kesenjangan dan bentuk-bentuk statifikasi baru.

Globalisasi telah membersihkan hampir semua tatanan sosial tradisional dan mengiring umat manusia pada pola hegemonitas kultural yang menentang nilai-nilai dan identitas.

Hal ini mengancam budaya lokal yang mengantarkannya menuju kepunahan, dampak yang lebih jauh akan terasa dilupakannya nilai-nilai dan identitas.

Hal ini mengancam budaya lokal yang mengantarnya menuju kepunahan, dampak yang lebih jauh akan terasa dengan dilupakannya nilai-nilai budaya lokal seperti BETULAK. Sudah sangat lama ditinggalkan,.

Kini mulai dihidupkan kembali menghidupkan atau mempertanyakan kembali kearifan lokal. mungkin memang lebih baik bayang bertukar dengan bayang lalu kita biarkan diri membeku dalam sunyi masing-masing.

Warga Desa Jerowaru bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat mengelilingi desa dengan melantunkan ayat-ayat suci alqur'an. Setelah prosesi arak-arak keliling kampung, warga dan sesepuh melanjutkan dengan prosesi Bewacan, zikir serta berdo'a bersama.

Kembalinya tradisi betulak disambut warga desa dengan penuh suka cita. Betulak yang dilaksanakan satu kali dalam setahun. Warga berharap, dengan kembalinya tradisi betulak, Desa Jerowaru pada khususnya dan desa-desa lain akan terhindar dari bencana dan malapetaka, didalamnya selain terdapat ucapan syukur tetapi juga terdapat interaksi sosial antara warga desa dengan lainnya.

Interaksi antara manusia dengan Tuhannya dan juga ada interaksi manusia dengan dunia lain yang hidup berdampingan dengan manusia seperti roh dan para arwah leluhur.

Bersih desa ini memiliki makna yang luas bagi masyarakat yang mempercayai dan yang mempunyai tradisi ini.


Yogyakarta/13/11/15

Penulis: Hasan Gauk, Pepadu Jerowaru, Lombok timur
Powered by Blogger.