PEDANG ITU TERTANCAP DALAM DADA KU


Di sebuah Desa terpencil terlihat hamparan kehijauan dengan udara jernih yang rimbun dengan pepohonan dan gunung yang menjulang tinggi. Dengan masyarakat yang begitu ramah dan sederhana. Sederhana dalam busana yang mereka kenakan, juga sederhana dalam pemikiran-pemikiran mereka. 

Ahmad Sya’ Rony anak terakhir dari tujuh bersaudara, ia hidup dengan khayalan-khayalan ingin melintasi ujung Dunia, memotret segala macam benda yang ada, dari kehidupan gaib maupun nyata. Kamera Nikon D7k yang tak pernah lepas dari tangannya, kemahirannya dalam memainkan lensa sama persis dengan kemahirannya dalam dunia sosial. Ia banyak melakukan sosialisasi di desa-desa
pelosok dengan beberapa rekannya, menyuarakan pendidikan itu penting untuk generasi mendatang.

Tidak hanya itu, dalam setiap gambar yang diambil dari lensa kameranya, ia menceritakan banyak makna yang terjadi dilingkungan sekitar. Yang luput dari pandangan kita semua, ia rela meninggalkan rumah berhari-hari hanya untuk mendapatkan gambar yang seharusnya layak untuk di publikasikan.
Emboung, nama panggilan akrabnya, nama itu diwariskan oleh kakeknya. Banyak hal pernah ia lewati, di usianya yang sekarang 29 tahun, ia adalah sosok dewasa yang sudah matang untuk mencari calon pendamping hidup. 

Destinasi wisata di penjuru Lombok pernah ia datangi, hobinya yang suka adventure melalang buana ke tempat-tempat yang belum terjamah membuat orang tahu tentang banyak tempat wisata baru berkat kegigihannya mencari spot baru. 

Kegigihannya untuk mengenalkan Tanah Sasak pada Dunia tak pernah surut, ia rela mengeluarkan bajet yang tak murah untuk membiayai perjalanannya. Tidur dijalan, makan tak karuan, kesehatan yang tak terjaga tak pernah dihiraukannya. Karena dalam hati, ia hanya ingin membuat kedamaian pada setiap mahkluk hidup dan melestarikan alam. 

Namun akhir-akhir ini, ia sering merenung dan menyendiri, entah apa yang membuatnya seperti itu. Pada suatu malam kala itu, Ben berkunjung ke rumahnya, ia mendapati Emboung sedang merenung dengan raut wajah lesunya. Beberapa menit Ben tak disapanya, yang akhirnya membuat Ben memberanikan diri menyapanya dengan nada yang cukup keras, yang membuat ia terkaget dari lamunannya.

Wooooooe Emboung. Ada kawan, kok akhir-akhir ini aku lihat kau suka melamun, apa stok janda sudah habiskah, sapa Ben mencoba mencairkan suasana.
Sesekali ia tersenyum memandang Ben dan terus melanjutkan lamunannya, cahaya bulan sedikit menyapa lewat celah-celah jendela malam itu, semakin membuat ia menikmati ratapannnya. Sesekali ia menghembuskan asap rokoknya di celah jendela tempatnya terduduk.
Ben pun semakin dibuat binggung dengan tingkah kawannya itu, tak pernah ia melihat Emboung bersikap seperti ini katanya dalam hati. Ben pun mencoba memutar otak, pertanyaan apa yang hendak akan dicoba agar temannya itu bisa terlepas dengan kesedihannya.
Woooe boy, besok ku pinjam kamera kau ya! Pacarku ngajak hunting nih, kira-kira tempat yang bagus dimana ya boy!
Emboung pun masih tetap menikmati dunia pananya.

Boy, kau tak dengar apa yang ku katakan, atau kau tak mau memberi pinjaman kamera kau itu! Ben pun semakin garang gara-gara tak dihiraukan Emboung yang masih membisu bak kesurupan.
Ya sudahlah, kalau kau tak mau kasih pinjam, aku pulang saja kalau kau tak mau ngasih. Ben pun beranjak dari tempat duduknya, dalam hati, aku pura-pura keluar saja, siapa tahu dia panggil nanti, begitu pikirnya. 

Malang pun jadi buntung, apa yang diharapnya tak terjadi, akhirnya membuatnya putus asa, Ben pulang dengan hati penuh pertanyaan. Ia tidak benar-benar ingin meminjam kamera, itu hanya siasat agar kawannya itu mau berbicara dengannya.
Keesokan harinya, Ben kembali mengunjungi rumah kawanya, ia makin terheran karena seingatnya semalam, ia meninggalkan Emboung pada posisi yang sama persis dengan posisinya sekarang, dalam hati Ben berpikir, ‘wah kacau ini kacau, kenapa dengan anak ini, janda mana yang sudah membuat dia tersakiti, ini tak bisa dibiarkan’, pikirnya dalam hati. 

Ia kembali mencoba menegur kawannya. Boy, kau kenapa rupanya, gadis mana yang berani menyakiti mu, dan janda mana yang berani menolakmu, sini kasih tau aku, biar ku tempeleng mereka, jangan gara-gara wanita kau macam orang tak laku saja.
Emboung menatap dengan tajam kearah Ben, dan di tunjukkan Gunung yang mulai hilang di telan senja. Lihat itu kawan, itu bukan milik kita lagi, bukan milik kita lagi. Ya, bukan milik kita lagi.
Berkali-kali ia mengulang kata bukan milik kita lagi, membuat Ben semakin binggung dibuatnya.
Gunung apa yang bukan milik kita lagi, kenapa dengan gunung itu?

Kau tahu Ben. Emboung menimpal, sekarang lahan-lahan yang ada di Tanah Sasak ini sudah dijarah pemodal, hotel-hotel berdiri dimana-mana, turis-turis tak bercelana tanpa baju sudah memasuki kampung-kampung, anak-anak sudah desa sudah mulai malas bersekolah, ibu-ibu itu sudah banyak menjadi janda, sawah-sawah sudah banyak dilelang, pantai-pantai sudah digarap orang asing, gunung-gunung dikeruk, masyarakat sudah banyak kehilangan akhlak, budaya tegur sapa tak lagi dibanggakan, penganguran dimana-mana, maling disana-sini, pembunuhan dan pemerkosaan kian menjalar,  agama sudah bukan lagi jadi pedoman, julukan seribu masjid kini akan hilang ditelan zaman, lalau apa yang membuatmu masih belum berpikir akan hal itu, apa kau memang benar-benar tidak perduli dengan semua itu Ben. 

Ben terdiam seolah Pedang Dzulfiqar menancap di dadanya. Namun setelah Sayidina Ali mencabut pedang itu di dadanya, ia mulai bisa bernapas pelan dan mulai berbicara terbata-bata karena tusukan pedang itu begitu mengagetkannya.

Kawan. Ternyata itu yang membuat kau termenung selama ini, maafkan aku yang terlalu sibuk dengan duniaku, aku tak pernah sempat memikirkan hal-hal yang seharusnya kita pikirkan bersama, oleh karena itu, mulai sekarang, aku akan ikut melakukan pendampingan pada masyarakat dan pemuda-pemuda desa, memberi penyadaran massa seperti yang kau berikan padaku, aku akui boy, aku khilaf selama ini, oleh karena itu, aku tidak akan mengulang kebodohanku ini, dan akan terjun langsung pada masyarakat, memberi tahu pada mereka agar tidak menjual lahan-lahan mereka, mengjak para pemuda untuk ikut menjaga Tanah Sasak ini teman. Terimakasih banyak atas tusukan pedang mu itu. Terimakasih

Yogyakarta/16/01/16     

Penulis: Hasan Gauk, Pepadu Jerowaru, Lombok timur

Powered by Blogger.