SENI ITU AKU, AKU ITU KARYA


BERUGAK LOMBOK - Biarlah kita jatuh cinta, dan biarkan waktu mengujinya. Begitulah gambaran dari seorang pemuda Perupa Sasak, ia tidak pernah berpikir tentang karya-karya yang ia cipta akan dibeli, ia hanya menginginkan di apresiasi orang lain. Seorang pemuda yang ingin berkarya tentang sebuah imajinasi. Melukis sebuah pikiran, melukis sebuah ide, melukis tentang sebuah gambaran yang banyak orang tidak memperhatikannya. Ia tidak pandai dalam segi bicara, namun ia meluangkannya dalam sebuah gambar yang 
melebihi suara. Bukankah suara itu cepat berlalu terbawa angin? Tapi tidak dengan sebuah tulisan yang di kerucutkan menjadi sebuah karya lukis.

Karakternya yang melankolis, selalu menjadi sebuah ciri khas dari seorang Saparul Anwar atau lebih sering disebut Phalonk. Itulah sebuah nama yang terbenam di ingatan teman-temannya. Penampilannya yang urak-urakan, menggambarkan bahwa ia adalah orang yang sederhana dan tidak memilih dalam berteman. Hidupnya selalu di dedikasikan untuk orang lain, itu jelas terlihat dari karya lukis yang ia karyakan. Tidak jauh dari kehidupan tatanan sosial yang masih carut marut seperti jaman ini. Ia mencoba menuliskan kisah tentang kehidupan manusia dan alam yang masih jauh dari keadilan serta kesejahteraan. Namun, ia berbicara lewat sebuah karya, mengkeritisi tentang sebuah tatanan kehidupan yang masih ambigu dan tidak adil ini.

Kanvas adalah kekasih sekaligus teman hidupnya, ia tidak pernah bisa terpisah lama dengan kuas, cat, dan kanvas. Phalonk mulai mengenal serta mencintai dunia lukis semenjak ia lepas dari Sekolah Menengah Atas. Ia pun berangkat ke Jogja, masuk di Institut Seni Indonesia untuk mengasah bakat terpendamnya, belajar menggambar adalah sebuah keharusan. Itulah yang membawa tekadnya menjadi seorang perupa professional. Ia tidak pernah malu serta takut untuk belajar pada siapapun. Terlebih lagi pada alam semesta yang menjadi guru sesungguhnya bagi siapapun yang mengerti bahwa alamlah yang menyediakan ilmu serta ide-ide brilian yang harus di tuangkan baik lewat tulisan, pemikiran serta lukisan.

Karya-karya yang ia ciptakan dari kecekatannya mengolah cat serta bermain dengan kuas diatas kanvas bisa disandingkan dengan beberapa Seniman lukis legend yang ada di Indonesia dan tidak menutup kemungkinan juga bahwa bisa di sandingkan dengan Seniman Perupa Dunia.

Mengingat usianya yang masih tergolong muda sangat membuka lebar kesempatan untuk terus berkarya. Phalonk juga beberapa kali ikut serta dalam pameran yang diadakan baik di Yogyakarta, Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pameran Perdananya, angkatan kriya seni 2011 yang bertemakan Nol Kecil yang diadakan di Galeri ISI Yogyakarta.

Pameran seni rupa, tema “Sampah Serakah” yang diadakan di kampusnya.

“Disambar Desember” yang diadakan di National Museum.

Lanjut 2013 di Green Garden ISI Yogyakarta,

Dies Natalis ISI Yogyakarta UPT Galeri ISI Yogyakarta.

“SURPRISE #7” di Gedung Sasana Budaya UM Malang,

Cafe Kalui Yogyakarta tema “Untitled”.

Pada tahun 2014, ia kembali menampilkan karya-karyanya di UPT Galeri ISI Yogyakarta dengan tema “Kriya Award” Gedung Sasana Ajiyasa.

Jogja National Musium dengan tema “Bermain Dalam Masa”

dan kembali ia dipertemukan dengan perupa-perupa SAK_ART “Komunitas Perupa Sasak”, posnya Seni Godod.

Pameran Seni Rupa coffee society Komunitas SAK_ART, di Café society.

Pameran Seni Rupa SURPISE #8 GSG ISI Yogyakarta.

Pameran Seni Rupa “New Craft Intimacy and Tradition”, Taman Budaya Jawa Tengah (Surakarta).

Pameran Seni Rupa Nandur Srawung,” Rupa rupa Seni Rupa” Taman Budaya Yogyakarta.

Pameran komunitas SAK_ART dan sarasehan, Pendopo Lama UNY.

Pameran Seni Rupa Jereng Renteng (DOMINO) Angkringan Wongso, Yogyakarta.

Pameran Seni Rupa Daging Tumbuh (Durhaka Art Scene), DGTMB Shop Yogyakarta.

Pada tahun 2015, kembali Phalonk mengikut sertakan karya-karyanya.

Pameran Seni Rupa Mahasiswa Indonesia ”Nalar, Sensasi, Seni” Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Pameran Seni “Rupa Kriya Award” 2015 Gedung Sasana Ajiyasa.

Pameran Seni Rupa “Dies Natalis ISI Yogyakarta #31” Galeri Katamsi.

Pameran Pameran Seni Rupa, “Sasak Movement” Gubuk Fasta, Yogyakarta.

Pameran Seni Rupa SE_ISI Yogyakarta “Bulan Budaya Lombok Sumbawa” Lombok Epicentrum Mall, Mataram.

Pameran Seni Rupa “Indonesia Berkabung” Gudung PKKH Universitas Gajah Mada.

Pameran Seni Rupa “Geng Mawar Anniversary 3” Basecamp Geng Mawar, Yogyakarta.

Pameran Seni Rupa “Sasak Kembali Ke Sasak” Gedung Sositet, Taman BudayaYogyakarta.

Pameran seni rupa gamaART (perupa Yogyakarta) dies natalis UGM ke 66, PKKH Uiversitas Gajah Mada.

Pada tahun 2016, ia kembali diundang dalam rangka Pameran Seni rupa, tema red apel indigocology cafe, Yogyakarta.

Pameran seni rupa, tema “Femevitale” bentara budaya Yogyakarta.

Pameran Seni Rupa, tema “Young not useless” KOI kemang Jakarta.

Dan Phalonk membuktikan dirinya degan meraih Award pada tahun 2014 Karya Seni Kriya Dalam Kompetisi Kriya Award 2014.

Kembali ia mendapatkan Award pada tahun 2014, Karya Seni Terbaik Dies Natalis ke 30 ISI Yogyakarta 4 Negara (Indonesia, Malaysia, Hungaria, Germany).

Pada tahun 2015 ia kembali menerima Award Nominasi Karya Seni Kriya terbaik dalam kompetisi Kriya Award 2015.

Dan pada tahun yang sama ia kembali mendapatkan Award dalam 100 Seniman pameran karya mahasiswa Indonesia Galeri Nasional Indonesia.

******** *******
Andaikan hidup seperti sebuah lukisan, aku ingin menggambarkan sebuah Negri yang jauh dari masalah-masalah kehidupan yang masih tidak merata. Andai saja, tapi semua itu tidak mungkin kulakukan, aku hanya seorang Phalonk yang hanya punya kemampuan menggambarkan imajinasi di atas sebuah kanvas. Keinginan ku untuk mengubah Negri tercinta ini menjadi seperti yang aku inginkan tidak akan pernah bisa aku wujudkan.

Jangankan Negri tercinta ini, untuk mengubah Daerah ku saja belum bisa aku lakukan. Masyarakatnya masih banyak yang mengganggur. Aku hanya seorang perupa, aku bukan Tuhan yang bisa merubah keadaan dengan sekejap mata, aku hanya ingin ikut serta bersuara lewat karya-karya yang kuhasilkan. Karena hidup dalam kematian itu adalah keniscayaan, tapi mati dalam kehidupan itu adalah pilihan. Aku ingin menggambarkan serta bercerita lewat karya-karya yang kuciptakan untuk menjadi sebuah sejarah bahwa betapa keinginanku menceritakan keadaan Negri ku. Aku ingin ikut bersuara, bukankah hidup yang bermakna adalah membantu orang-orang yang teraniyaya di Negri sendiri!

Keinginan terbesarku saat ini hanya ingin memperkenalkan Seni Rupa di Daerah asalku, karena masih banyak yang belum tahu dan mengerti bahwa Seni itu adalah bagian dari sebuah perubahan. Lewat seni kita bisa ikut mengkritisi betapa kejam tatanan sosial yang ada di lingkungan sekitar, walau kehidupan seorang Perupa tidak menentu, tidak ada masa depan yang pasti. Tidak banyak orang yang ingin menjadi seorang perupa, kau tahu kenapa? Karena penghasilan yang tidak menentu dan penampilan seorang perupa tidak pernah seperti kebanyakan orang yang berpenampilan elegan. Hanya beberapa saja yang mengikuti perkembangan zaman. Fashion seorang perupa tidak akan pernah ikut serta dalam perkembangan kemajuan fashion itu sendiri. Karena perupa tidak akan pernah jauh dari cat yang selalu membuat kotor segala macam pakaian yang ia kenakan.

Dalam pekaryaan yang sering aku ciptakan, aku ingin mencoba berbicara dan mengajak kita semua untuk lebih membuka lebar setiap mata yang memandang bahwa banyak yang harus dan perlu kita perhatikan di lingkungan sekitar yang jarang dan tidak ingin kita bicarakan. Khusunya di Lombok, seorang seniman atau perupa masih sangat jarang dihargai karya-karyanya, kau tahu kenapa? Karena di Daerahku masih banyak yang belum mengerti bahwa seni itu adalah bagian dari kehidupan.

******** *******
Aku ingin memperkeanlkan serta mengajak orang-orang yang ingin belajar bersama dalam dunia Senirupa. Walaupun Pemerintah Daerah dan Dinas Kebudayaan serta Parawisata belum terlalu banyak ikut berkontribusi terhadap perkembangan serta kemajuan dunia Senirupa yang ada di Lombok. Namun itu tidak mematahkan semangatku untuk tetap berkarya.

Entahlah hasil karya ku akan dijadikan apa nantinya. Apakah hanya akan tergantung di sebuah gudang tua atau akan dijadikan bahan pajangan serta rumah bagi cicak. Ketiadaan ruang pamer di Lombok tidak tersedia secara representative juga ketiadaan kurator, setidaknya orang yang memberi pengantar singkat pada brosur pameran. Itu kadang yang membuat Perupa Sasak tidak banyak keseriusannya dalam menggambar sebuah karya. Terkadang itu menjadi tantangan tersendiri dimana seorang perupa dituntut untuk selalu berkarya meskipun karyanya tidak masuk dan memenuhi apresian pengunjung yang datang melihat lukisan atau karya yang di pamerkan.

Melukis tanpa pamer adalah onani. Sementara ini, ruang memamerkan onani itu belum ada secara mapan dan semata-mata peruntukannya untuk media publis karya lukis. Ketiadaan ruang rupa ini tidak ingin aku salahkan Pemerintah dan jajaran yang menangani perkara Kebudayaan dan Kesenian semata. Tapi aku wajib menyalahkan diri sendiri karena terlalu naif. Namun setelah banyak melihat dari para maestro besar yang kutemui di Jogja, bahwa ruang pamer tidak mesti harus serupa galeri mapan macam di Jawa yang rata-rata sudah memenuhi tingkat manajemen yang solid dengan agenda seni yang berkelanjutan. Dalam hal ini kita Perupa Sasak memang jauh tertingal, aku tidak tahu apakah karena mensed yang berkembang pada masyarakat bahwa Seni lukis itu adalah dosa besar yang kelak di akhirat akan mendapat ganjaran neraka yang maha dahsyat.

Senirupa Lombok terlihat pucat dan mati rasa. Mengingat perupa Lombok yang ada sekarang hampir semua hijrah ke jazirah Jawa. Dengan alasan senirupa di Lombok telah mati dan tidak ada perkembangan. Yang tingal hanyalah pelukis yang terlalu cinta dengan Tanah Sasak mengais rejeki ke sana kemari. Kadang bahkan tidak dari lukisan. Ini tentu tidak mengherankan untuk Negri kaya macam Indonesia ini. Seorang lahir dengan bakat tertentu yang spesifik macam bakat menyayi, kelak ketika dewasa harus menjadi tukang cuci di laundry. Bisa jadi seorang dosen menjadi tukang ojek keliling, seorang guru berusaha sampingan sebagai tukang tagih. Ini lazim di Negri galau begini.

Senirupa Lombok belum mempunyai sejarah panjang dari pergumulan ide-ide. Barangkali itu yang membuat enggan pemerintah untuk mendukung Senirupa karena tidak adanya sejarah yang cukup kuat. Seandainya bisa kita buka kepala dan benak satu persatu perupa muda Lombok. Aku yakin, dengan kekayaan budaya serta keragaman yang ada maka lewat sebuah kanvas mereka akan memvisulisasikan sejarah-sejarah yang terkandung didalamnya, jalan awal bagi keteguhan bahasa ungkap visual kelak.

Lombok adalah sumber inspirasi bagi pekarya. Karena keindahan bahasa rupa tidak saja menyangkut di birunya pantai, pegunungan, dan budayanya. Inspirasi yang dikandung tanah Sasak melebihi apa yang dikandung perut buminya. Yang kita takutkan adalah sumber inspirasi itu akan menjadi sia-sia karena lama tidak dipakai. Dengan ungkapan sejarah panjang, Pulau Seribu Masjid yang dihuni masyarakat berahlak serta kerendahan hati dan kesederhanaan masyarakatnya.

Yogyakarta/27/04/16

Penulis: Hasan Gauk, Pepadu Jerowaru, Lombok timur
Powered by Blogger.