KABAR DUKA DARI NTB

Gambar Ilustrasi Desa Berduka, Sumber: cdns.klimg.com


Melihat postingan akhir-akhir ini yang datang dari Lombok Tengah, pembangunan Mega Proyek Kereta Gantung yang rencananya akan dibangun di kebun kopi Desa Lantan menuju Gunung Rinjani seolah-olah H. Moh. Suhaili, selaku Bupati Lombok Tengah membuka lebar kesempatan kepada para investor itu untuk mengencani dan diperkosa anaknya, "Rinjani".
Kesucian Rinjani telah dan akan ternoda, begitu juga dengan spiritual penghuni Nusa Tenggara Barat. Bagaimana tidak, Rinjani adalah identitas makhluk hidup yang berdiam di tanah Nusa Tenggara Barat, jika sebuah kemurnian yang dianggap suci dikhianati, maka yang akan terlihat adalah kehancuran adat dan budaya. Lantas, siapa yang paling bertanggungjawab. Yang paling bertanggungjawab adalah seluruh penghuni Nusa Tenggara Barat lantaran membiarkan perawan Rinjani dirampas dan ternodai.

Terlebih lagi, pembangunannya, kata Wang selaku investor dari Cina mengatakan bahwa, pembangunan itu dimulai dari kebun kopi di Desa Lantan, hingga puncak Gunung Rinjani. Total luas lahan yang dibutuhkan untuk menunjang fasilitas tersebut, mencapai 175 hektare. Bersamaan dengan itu, juga akan dibangun sarana dan prasarana perhotelan, vila, restoran, pusat kesehatan, pusat perbelanjaan dan pusat olah raga.

Nusa Tenggara Barat yang lebih terkenal dengan kereligiusannya kini akan terdengar sumbang, akan menjadi cerita belaka, akan menjadi kenangan dan sejarah jika penghuninya terdiam membiarkan Rinjani ternodai.


Lantas, masihkah kita akan berbangga sebagai penghuni tanah Nusa?

Puncak tertinggi telah ternoda, identitas spiritual telah dipungkiri, serta keperawanan dan kesucian Rinjani akan dikhianati.


Siapa lagi yang akan jadi korban dan Tuan?

Semoga Puan dan Tuan ikut serta menggagalkan rencana yang diwacanakan Tuan Suhaili ini. Semoga Tuan dan Puan masih sadar dengan kemurnian serta kesucian Rinjani sebagai persemayaman tertinggi di tanah Nusa Tenggara.

Kalaupun kereta cepat ini akan terealisasikan, tanpa memperhatikan dampak serta sebab akibat dari pembangunannya. Kerusakan atas eksploitasinya atas pembangunan Kereta Cepat ini maka bisa kita lihat, apakah persatuan warga Nusa Tenggara Barat akan ada atau tidak untuk menolak rencana Bupati Lombok Tengah dan juga Pemerintah Provinsi. Terkhusus warga Sasak yang memang sangat menghormati Rinjani. Kalaupun tidak ada kekhawatiran, maka bisa saya katakan, Sasak sudah tinggal kenangan.

Semoga masih ada yang perduli.

Penulis: Hasan Gauk, Pepadu Jerowaru, Lombok timur

No comments

Powered by Blogger.