Pembangunan Ekonomi NTB Dibawah TGB - Bagian 1

Sumber gambar: nasional.tempo.co
















BERUGAK LOMBOK - Pembangunan ekonomi Provinsi NTB di bawah kepemimpinan Gubernur TGB sudah berjalan on the right track, indikator-indikator ekonomi seperti angka kemiskinan, kesenjangan, pengangguran mengalami penurunan. Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi melebihi capaian nasional, pada kuartal II tahun 2017, pertumbuhan ekonomi NTB mencapai 6,00 persen berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang bertengger diangka 5,01 persen. 

Untuk melihat proses pembangunan ekonomi di bawah kepemimpinan TGB (2 periode) secara detail, dijelaskan sebagai berikut;

1. Kemiskinan dan Kesenjangan


NTB adalah salah satu Provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin cukup tinggi, tahun 2008 persentase penduduk miskin di NTB sebesar 23,81 persen. Di bawah kepemimpinan gubernur Zainul Majdi (TGB), provinsi NTB banyak mengalokasikan anggaran untuk penanggulangan kemiskinan. Contoh, untuk 2017 pemerintah provinsi mengalokasikan anggaran mencapai Rp 1,7 triliun dalam program terpadu penanggulangan kemiskinan.


Sumber: BPS (2017)
Komitmen dalam menurunkan angka kemiskinan yang dimulai sejak tahun 2008 membuahkan hasil yang positif. Dari 23,81 persen pada tahun 2008 turun signifikan menjadi 16,00 persen pada kuartal I tahun 2017 atau 1,12 persen per tahun. Penurunan persentase penduduk miskin di NTB pada periode pertama kepemimpinan Gubernur Zainul (2008-2013) mencapai 6-7 persen selama lima tahun.

Akan tetapi jika dibandingkan dengan nasional, kemiskinan di NTB berada di atas rata-rata nasional (10,64 persen pada kuartal I tahun 2017). Sedangkan angka gini ratio atau ketimpangan di Nusa Tenggara Barat lebih baik dibanding nasional, yaitu 0,37 banding 0,39 pada kuartal I tahun 2017.


Sumber: BPS (2017)
Kunci sukses menurunkan angka kemiskinan di NTB di mulai dari desa, contoh program nya seperti pengembangan sapi, jagung, rumput laut, penguatan badan usaha milik desa (BUMDes), penambahan jumlah desa wisata, pemantapan program ketahanan pangan, pemenuhan infrastruktur dasar yang meliputi perumahan, air bersih, dan sanitasi lingkungan.

Selanjutnya pemerintah provinsi NTB terus berupaya dalam membangun pemukiman layak huni, penguatan kapasitas pendamping desa secara berkelanjutan, pembangunan ketahanan pangan melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari yang terintegrasi dengan perikanan dan peternakan

Keberhasilan tersebut mengukuhkan posisi Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai provinsi paling progresif mengurangi angka kemiskinan secara nasional. Pada tahun 2015 pemerintah provinsi NTB berhasil meraih penghargaan Millennium Development Goals(MDGs) dan predikat Top Mover. Pada september 2015, Gubernur TGB diundang khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memberikan pemaparan tentang penurunan angka kemiskinan di Nusa Tenggara Barat dalam sidang umum PBB di New York, Amerika Serikat.

2. Pengangguran

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat pengangguran terbuka di NTB mengalami fluktuasi, pada tahun 2008 sebesar 5,2 persen menurun menjadi 3,86 pada kuartal I tahun 2017. Pada Februari 2017, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada penduduk dengan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan menempati posisi tertinggi yaitu sebesar 11,12 persen, disusul oleh TPT Universitas sebesar 6,99 persen, sedangkan TPT terendah terdapat pada penduduk dengan tingkat pendidikan SD kebawah yaitu sebesar 1,84 persen.


Sumber: BPS (2017)
Berdasarkan publikasi dari BPS, jumlah angkatan kerja di Nusa Tenggara Barat pada Februari 2017 mencapai 2.520,67 ribu orang, bertambah sekitar 56,34 ribu orang jika dibandingkan dengan angkatan kerja Agustus 2016 yang berjumlah 2.464,33 ribu orang atau bertambah sekitar 138,05 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2016.

Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Nusa Tenggara Barat adalah Sektor Pertanian yaitu sekitar 42,20 persen, diikuti oleh Sektor Perdagangan sekitar 21,79 persen, Sektor Jasa Sosial Kemasyarakatan dan Jasa Perorangan sekitar 16,05 persen, serta Sektor Industri sekitar 7,29 persen. Penduduk bekerja masih didominasi oleh penduduk yang berpendidikan SD kebawah yaitu sekitar 1.177,60 ribu orang (48,59 persen). Penduduk bekerja berpendidikan tinggi hanya sekitar 245,27 ribu orang mencakup 49,15 ribu orang (2,03 persen) berpendidikan Diploma dan 196,12 ribu orang (8,09 persen) berpendidikan Universitas.

3. Indikator selanjutnya (bersambung ke artikel bagian 2)

Penulis : Supiandi, Mahasiswa Maritime and Air Transport Economics di UAntwerpen dikutip dari kompasiana.com/supiandi

No comments

Powered by Blogger.