Sufisme, Solusi Kekerasan Atas Nama Agama

pinterest.com

















BERUGAK LOMBOK - Kekerasan atas nama agama di bumi ini terjadi secara terus-menerus, hanya berganti wilayah dan pelaku saja. Kekerasan yang terjadi di Myanmar adalah salah satu contoh kekerasan atas nama agama (selain faktor politik dan ekonomi) yang terkini, rentetan konflik yang terjadi di Timur Tengah sudah menelan korban nyawa yang tidak terhitung. Indonesia pun mengalami hal yang sama, poling Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengungkapkan fakta bahwa masyarakat Indonesia semakin tidak toleran.

Survey LSI menemukan hampir setengah masyarakat Indonesia tidak suka hidup berdampingan dengan kelompok minoritas: 46,6 persen tidak suka bertetangga dengan Ahmadiyah, dan 41,8 persen tidak nyaman hidup dengan pemeluk Syiah. Tahun 2005 sikap tidak toleran atas kelompok agama lain adalah 8,2 persen, kini angka itu menjadi 15,1 persen. Lebih mencemaskan lagi, ditemukan bahwa semakin banyak orang Indonesia yang toleran dengan penggunaan kekerasan sebagai jalan untuk menyelesaikan perbedaan keyakinan agama.

Anomalinya, kekerasan atas nama agama ini subur di negara-negara yang penduduknya memiliki ketaaatan yang tinggi terhadap agama yang dianutnya. Negara-negara ini mengakui agama bukan hanya secara lisan, tapi menuangkannya dalam aturan perundang-undangan yang disahkan secara bersama-sama. Jika ditelusuri secara mendalam, agama dalam konsep Islam disebut Ad-Din berasal dari bahasa Arab Daana-Yadiinu-Diinan yang artinya jalan hidup, tatanan, hukum, tanggungan yang harus ditegakkan. Sedangkan dalam bahasa Inggris yaitu religion, berasal dari bahasa Latin "religio' yang artinya patuh menjalankan tugas individu dan sosial. Dengan melihat definisi tersebut, seharusnya kehadiran agama menjadi tuntutan yang bisa menghadirkan kedamaian dalam berkehidupan.

Akan tetapi, jika berkaca dari fenomena diatas, dimana konflik atas nama agama terjadi secara terus menerus, mungkin saatnya melakukan refleksi terhadap dimensi agama yang dijalankan sehari-hari oleh pemeluknya. Apakah ada yang belum lengkap? menjalankan dimensi agama hanya sebatas ritualitas yang menandakan kesalehan, memahami agama sebatas luar nya saja yang ditandai dengan simbol-simbol keagamaan, atau mejadikan agama sebagai alat untuk menindak orang-orang yang tidak sejalan dengan kebenaran sepihak.

Untuk mencari dimensi yang lain, mari sama-sama belajar dari sejarah masuk nya Islam ke Indonesia. Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-15 melalui Sufisme. Islam di Indonesia berkembang salah satunya karena peran para Wali Songo, para Wali Songo ketika pertama kali memperkenalkan Islam dimulai dari pengenalan nilai-nilai budi pekerti. Dimulainya dari nilai-nilai budi pekerti karena nilai-nilai tersebut dekat dengan ajaran Hindu dan Budha yang saat itu menjadi agama mayoritas.

Sifat sufisme yang lebih banyak bicara soal nilai-nilai kebaikan itu membuat Islam menjadi lebih gampang diterima. Sufisme di Indonesia dikenal dengan sebutan tasawuf, kelompok tarekat atau orang Eropa menyebutnya dengan mistikus Islam. Khas dari sufisme adalah mendalami dimensi batin agama, karena yang dipelajari dan diamalkan adalah dimensi batin agama, maka para sufisme mudah untuk menerima perbedaan keyakinan, memiliki sikap toleransi dan tidak mudah terpengaruh oleh ideologi-ideologi sesat.

Berdasarkan penjelasan pakar sufisme yang sedang mengikuti program riset Post Doktoral Yayasan Humbolt di Universitas Koln Jerman, diperkirakan saat ini lebih dari tujuh juta orang di Indonesia yang mengikuti ajaran sufisme. Meningkatnya jumlah sufisme di Indonesia di motori oleh organisasi Islam terbesar yaitu Nahdatul Ulama (NU), NU bahkan mempunyai sayap organisasi tasawuf. Jika dilihat dari sebarannya, sebagian besar pengikut sufisme tinggal di pedesaan.

Untuk meningkatkan jumlah sufisme, dibutuhkan langkah strategis dari para cendikiawan muslim. Fokus pengajaran taswauf saat ini bukan hanya disentralkan di pedesaan tapi harus mampu merambah ke perkotaan, lebih-lebih teror yang terjadi akhir-akhir ini sering menyasar wilayah perkotaan. Selain itu, dengan perkembangan teknologi, para cendikiawan muslim harus aktif melakukan pengajaran-pengajaran ilmu tasawuf lewat media sosial seperti facebook, twitter, vlog, instagram dan media lainnya.

Jika hal ini tidak dilakukan, maka ajaran-ajaran radikal akan senantiasa menghiasi media sosial yang dengan mudah di akses oleh siapapaun. Tidak dapat dipungkiri, melesatnya jumlah pengguna internet di Indonesia sudah di manfaatkan oleh jaringan-jaringan garis keras dalam menyebarkan ideologi, propaganda dan melakukan rekrutimen anggota baru.

Meskipun Indonesia masih mengalami beberapa konflik yang dipicu oleh agama, namun dunia internasional menaruh harapan besar kepada Indonesia sebagai negara yang mampu meciptakan perdamaian, khususnya konflik yang disebabkan oleh agama. Harapan ini muncul karena Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam yang moderat, tokoh-tokohnya piawai dalam mengelola perbedaan, dan yang terakhir tentunya dari segi jumlah penduduk Islam terbesar di dunia ada di Indonesia.


Penulis : Supiandi, Mahasiswa Maritime and Air Transport Economics di UAntwerpen dikutip dari kompasiana.com/supiandi

No comments

Powered by Blogger.