TANAH ADAT KAMI SUDAH TERJUAL



Gambar Hasan Gauk

BERUGAK LOMBOK - Tampah Bolek adalah kawasan pesisir pantai yang memang akan selalu memantulkan kemilauan pada siapapun yang melihatnya. Keindahan pantai serta kekayaan biota laut yang masih terjaga. Masyarakat Nusa Tenggara Barat tentu tidak asing dengan pantai di Selatan ujung pulau Lombok ini. Tepatnya dikawasan Desa Seriwe Kec. Jerowaru Kab. Lombok Timur.
Sayonara Tanah Adat. 

Barangkali ungkapan itu akan segera kita dengar dari masyarakat Nusa Tenggara Barat khususnya masyarakat Lombok yang tiap tahun mengadakan Festival Rakyat Bau Nyale dikawasan pantai Selatan Lombok Timur tersebut. Saya yakin, banyak masyarakat tidak tahu menau terkait pembangunan tembok raksasa yang sedang mengelilingi kawasan pantai Kaliantan oleh PT Temada Pumas Abadi yang kini mengklaim sebagai pemilik kawasan pantai sepanjang Tampah Bolek. Padahal masyarakat Sasak sudah menempati lahan seluas kurang lebih 100 hektar jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Ini jelas adalah penyalahgunaan kekuasaan, baik dari pihak Desa, Kecamatan hingga ke Kabupaten dan Provinsi. Sungguh bajingan mereka yang dengan semena-mena menjual tanah Ulayat ini.

Menjelang Pilkada serentak, masing-masing calon di Nusa Tenggara Barat memaparkan tulisan besar di masing-masing baliho. Tidak lupa, dengan tagline masyarakat yang utama. Namun mereka lupa, permasalahan demi permasalahan dihadapai oleh masyarakatnya. Pemerintah hanya berdiam diri menutup mata dan telinga. Intinya, pilih saya, maka Anda akan bahagia.

Melihat kondisi saat ini, dimana wilayah dikawasan Selatan bisa dikatakan hampir punah dari peradaban masyarakat lokal. Dengan melihat kekejaman para investor tidak menutup kemungkinan bahwa; Festival Rakyat Bau Nyale akan tinggal kenangan. Para investor tentu tidak akan rela melihat hotelnya disesaki rakyat miskin, halaman bungalownya dikotori, jika Anda tidak memiliki biaya, jangan coba menginjakkan kaki. Begitulah hukum pemodal.

Kok bisa?

Para borjuis jelas akan memprivatisasi wilayah mereka, jika Anda kere, jangan sekali-kali menginjakkan kaki di wilayah ini. Lahan Adat tidak lagi dihormati, apalagi lahan-lahan yang tidak dimiliki secara bersamaan akan dengan mudah beralih tangan. Masyarakat disingkirkan, rumah dan masjid dirobohkan, festival tahunan harus ditiadakan.

Jelas hal ini akan berdampak besar bagi masyarakat, lahan yang dulunya selalu menjadi tempat wisata keluarga secara gratis kini akan prabayar. Tentu juga, ini adalah Tanah Adat, TANAH yang dimiliki oleh seluruh masyarakat suku Sasak. Tidak boleh satu orang pun memilikinya. Jika masyarakat Sasak tidak mau merebut tanah Ulayat ini, sungguh. Kita akan kembali menjadi budak di tanah sendiri.

Namun apa daya, kita tak mampu berupaya, kekuasaan kini merajalela. Kini tinggal penentuan, apakah masyarakat Sasak rela berucap sayonara atau tidak. Jika tidak, mari rebut kembali tanah Ulayat pantai Kaliantan.

Sesungguhnya kehidupan berikutnya ada pada tangan kita yang hidup saat ini yang sedang menikmati sisa-sisa umur yang entah berakhir kapan. Namun jika sisa-sisa umur ini tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kehidupan selanjutnya akan jauh lebih menderita.

Secara garis besar, masyarakat sudah menyepakati bahwa, lokasi dan tanah seluas kurang lebih 100 hektar ini adalah milik bersama masyarakat Suku Sasak. Dengan begitu tentu tidak ada satupun yang berhak atas kepemilikan tanah tersebut. Jika ada, masyarakat secara umum bersepakat, kepala akan jadi tumbal.

Apakah hukum adat itu masih berlaku?

Saya menyakini, masih ada beberapa yang memegang dan tetap konsisten atas kesepakatan hukum adat tersebut, semoga.

Penulis: Hasan Gauk, Pepadu Jerowaru, Lombok timur

No comments

Powered by Blogger.