Dihilangkannya Orang-orang Sekaroh


BERUGAK LOMBOK - Hari itu hujan mengguyur kampung Sekaroh, tak ada satu orang pun yang duduk diberanda seperti hari-hari sebelumnya, barangkali mereka sudah bosan melihat hujan atau setidaknya mereka sudah bosan hawa dingin menggerogoti daging tipis mereka. Apa juga yang harus dilihat dimalam gelap tanpa penerangan, hujan? Tentu masyarakat yang hidup dipinggiran hutan Sekaroh tidak pernah menjadikan hujan sebagai wahana hiburan atau sekadar menikmati rintik-rintiknya sebagai salah satu kejadian langit yang ditunggu-tunggu. Justru tidak sedikit masyarakat yang membenci fenomena langit tersebut.

Marsini salah satunya, ia salah satu dari sekian pemburu babi hutan yang masih bertahan di Sekaroh. Jika hujan turun, ia akan masuk hutan berhari-hari lamanya, mencari jejak-jejak babi yang sudah jarang ditemukan, tentu binatang hama itu akan jarang keluar hutan jika hujan terus saja mengguyur sepanjang hari. Marsini biasanya ditemani Ayep adik tirinya dan juga Bikan anaknya, tidak lupa mereka ditemani Pelor, Mirah dan Menjangan anjingnya yang memang sudah dilatih sedari kecil sebagai anjing pemburu yang handal. Setiap berburu, tiga anjingnya akan selalu jadi teman setia mereka. Sudah hampir sembilan hari mereka menyusuri hutan. Kali ini adalah hari tersial bagi ketiga pemburu ini, tidak seekor pun babi hutan mereka dapati. 

Hutan sekaroh adalah hutan adat. Tak ada satu orang pun yang boleh menebang pohon dengan dalih apapun. Jika itu dilanggar, maka hari itu juga si pelaku penebangan akan tewas seketika, entah oleh sebab apa, dari ujung kaki sampai sekujur tubuh biasanya akan membiru, juga lebam, lalu setelahnya akan terlihat seperti orang gila yang mengoceh sendiri tanpa diketahui penyebab penyakit semacam itu, yang jelas masyarakat mempercayai hal semacam itu dengan sebutan tuah. Masyarakat masih sangat mempercayai tatanan kehidupan masyarakat adat, jika pemangku mengatakan tidak boleh, maka tidak ada satu orang pun yang berani membantah bahkan menyanggah, karena itu adalah satu petuah yang wajib ditaati. Jika ada diantara mereka yang tidak percaya atau mencoba melanggar, maka kematian akan menjemputnya. Amaq Anom adalah pemangku Desa yang sangat disegani dan dihormati dikalangan masyarakat setempat, bukan karena usianya yang sudah hampir se—abad itu atau karena ilmu Ramal, Senteguh, Senjerit, Seranggas dan ilmu Jaye Sempurne yang ia miliki. Namun karena kejujuran, kerendahan hati serta pemikiran-pemikirannya yang bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat dan juga petuah-petuahnya yang selalu mengajak masyarakat untuk tetap mejaga hutan. Ia selalu berpesan;"jika satu pohon akan kita tebang, berarti kita sudah menghilangkan sepuluh nyawa seseorang, tapi jika satu pohon kita tanam, seribu orang akan terselamatkan." Begitulah petuah-petuah yang selalu dilontarkan Amaq Anom selaku mangku Adat yang sangat dicintai warganya. 

Namun seiring berjalannya waktu, syarat-syarat alam mulai dilangkahi, satu persatu mulai menggerogoti pohon-pohon yang tumbuh subur dihutan Adat, ada yang merambah menjadi penebang liar, makelar tanah, juga pemburu liar yang dengan sembarang menembaki apa saja yang melintas dihadapan mereka, tak perduli itu hewan atau binatang kramat yang memang dilindungi, baik oleh masyarakat Adat maupun pemerintah. Segala jenis satwa penghuni hutan Sekaroh dihabisi. Semua itu dilakukan setelah wafatnya Amaq Anom selaku pemangku Adat hutan Sekaroh, tidak ada lagi yang disegani oleh orang-orang yang memiliki kerasukan dan ketamakan duniawinya. 

Tepat dihari kesepuluh, nasib baik sepertinya bakal menghampiri mereka. Pelor dan Menjangan gerasak-gerusuk memperlihatkan tingkah yang tak biasa, sepertinya ada babi yang mereka endus baunya. Ayep dan Bikan lalu mengikuti kedua anjingnya yang berlari mendekati pohon Mahoni. Sementara Mirah berada ditempat lain bersama tuannya menyusuri pinggiran hutan. Dari jarak yang cukup dekat, Ayep dan Bikan melihat segerombolan penebang kayu disana, ia dengan sangat berhati-hati melihat satu per satu wajah diantara mereka. Jelas disanatertangkap oleh kudua matanya dibalik semak belukar, wajah yang sangat ia kenali, Pak Sumenep. Pak Sum nama panggilan akrabnya--adalah seorang Kepala Desa--yang sangat disegani oleh masyarakat di kampungnya, bukan lantaran kebijakan-kebijakannya ia disegani atau cara menjalankan amanat yang sudah diembannya sebagai pemangku Desa melainkan karena kebengisan dan juga keangkuhannya--ia tak akan segan-segan memukul atau memaki siapa saja yang mencoba menegur atas kebijakan-kebijakan atau yang menanyakan sesuatu perihal kepemimpinnya selama ini. Pak Sum adalah seorang Kepala Desa yang anti terhadap kritik.

⠶⠶⠶⠶⠶⠶⠶
“Kumasuki hutan dengan harapan beberapa babi bisa dibawa pulang”. Tapi setelah mereka melihat kejadian hari itu, Marsini, Ayep dan Bikan seolah getir tiap kali akan memasuki hutan Sekaroh, mereka takut kalau hal serupa akan mereka lihat lagi.

Semenjak kejadian itu, Marsini, Ayep dan Bikan anaknya tidak melakukan perburuan babi dalam jangka waktu yang cukup lama. “Mereka masih dibayang-bayangi suara raungan anak manusia yang muncratan darah dari kepala yang terpisah dari tubuhnya”. 


Semenjak pembabatan hutan yang dimuali sejak tahun 2001, hanya merekalah yang sampai saat ini tetap bertahan menggantungkan nasib dengan berburu. Sedang warga yang lainnya lebih memilih jadi perantau, baik ke kota maupun ke luar negeri. 


Marsini dan Ayep juga berberapa kali diajak oleh sebagian warga yang sudah keluar masuk Malaysia untuk bekerja disana. Tapi lagi-lagi, usaha mereka tetap tak menuai hsil, mereka tetap bertahan dengan pendiriannya, jawaban yang selalu dilontarkann membuat orang yang membujuknya tak bisa berkata-kata lagi. "Kalau semua laki-laki di kampung ini meninggalkan rumah, lantas siapa lagi yang bakal menjaga tanaman dari serangan hama? Tentu sebagian warga di kampung ini juga membutuhkan pertolongan dari kekejaman babi hutan yang kerap kali merusak tanaman-tanaman warga, hasil panen juga kan tergantung dari seberapa banyak babi yang tidak merusak dan memakan tumbuhan yang ada di ladang bukan?".

Satu persatu masyarakat Sekaroh meninggalkan kampung halamannya setelah mereka berhasil mengumpulkan sejumlah ringgit diperantauan. Bahkan, tak jarang dari mereka yang memberi secara percuma gubuk-gubuk hunian mereka pada warga lainnya. Mereka lebih memilih membeli tanah di luar kampung dan membangun rumah baru mereka disana, begitu seterusnya. Barangkali mereka sudah bosan hidup di pinggiran hutan yang akses air bersihnya sangat sulit didapatkan, jalan-jalannya yang berlumpur tiap kali hujan melanda juga gelap gulita saat matahari mulai condong ke barat, dan tentu juga karena akses informasi yang sangat sulit didapatkan, apa lagi jarak tempuh untuk anak-anak mereka yang bersekolah dan juga bagi mereka yang sesekali ingin berangkat ke kota. Jika tetap memilih bertahan disana, maka segala akses informasi akan sulit mereka dapatkan. di tempat ini juga dulu pernah ada sekolah yang didirikan dari iuran warga setempat, namun tidak bertahan lama, tidak sampai dua tahun sekolah itu bertahan, para guru sukarelawan yang mengajar disana tidak tahan menempuh perjalanan menuju kampung Sekaroh karena akses jalan menuju sekolah sangatlah memprihatinkan. Pernah ada beberapa dari warga menuntut perbaikan jalan pada Pak Sum selaku Kepala Desa, juga pada pihak Kecamatan hingga Kabupaten dan Provensi, tapi sampai akhir priode ke--duanya jalan itu masih seperti semula, Pak Sum tidak pernah benar-benar ingin memperbaikinya. Saat-saat mendekati Pilkada, para calon dari berbagai macam partai bergonta ganti datang menabur janji, namun setelah mereka terpilih dari beberpa diantara mereka yang sering bolak-balik ke kampung Sekaroh menjadi Dewan Perwakilan Rakyat, tak satupun diantara mereka yang datang memenuhi janji-janji yang kedung sudah tertanam, alih-alih mengirim bantuan, berkabar pun mereka enggan. 

Tiga bulan berlalu, Marsini, Ayep dan Bikan sudah mempersiapkan bekal. Kali ini mereka harus mendapatkan banyak buruan. Jika tidak, hutang selama tidak melakukan perburuan akan kian menumpuk. Perasaan was-was mereka kini sedikit demi sedikit berangsur hilang, toh, kalau mereka tidak berburu, hutang kepada Wanto tak akan bisa tertutupi, belum lagi dengan disertai bunga-bunganya.

"Kali ini, akan kutantang seribu babi dengan lengan terbuka. "Pantang kita pulang sebelum mendapatkan banyak buruan," ucap Bikan dengan penuh percaya diri.


Ayep yang mendengar semangat yang ber--api-api lalu menepuk pundak keponakannya untuk ikut memberi semangat. “Dulu, paman semasih seusiamu lebih bersemangat darimu, kalau tak percaya bisa kau tanyakan pada Ayahmu. Tapi paman mengakui, dulu paman lebih tua saat itu ketimbang usia kau sekarang ini”. Bikan yang mendengar ucapan pamannya itu kini lebih memantapkan semangatnya. "Jadi, aku tidak akan keluar dari hutan sebelum meringkus puluhan babi, paman."

"Jangan berucap sembrono kau, Nak, karena dalam kepercayaan kita, bukan parang, tombak atau senjata tajam lainnya yang membuat kita takut. Tapi yang paling dihindari adalah ucapan yang terlalu jumawa. Apa kau ingat Amirun? Dia tewas bukan karena parang yang menyabet di lehernya. Ia terkenal memiliki ilmu kanuragan dan ilmu kebal, tapi asal kau tahu, ia tewas atas ucapannya sendiri yang tidak bisa tersentuh senjata tajam", ujar sang Ayah menasehati. 

"Aku ingat sekali waktu Irun tewas seketika akibat ucapannya, Yah."Ya, "di hutan Sekaroh; tak ada yang terkuat, Nak, dan yang akan bertahan hidup disana adalah mereka yang selalu rendah hati dan menjaga ucapannya dari kesombongan-kesombongannya juga kebaikan hati mereka yang ikut merawat segala yang ada di hutan ini. Jadi anakku, hutan ini adalah milik semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi ini. Jadi jangan sekali-sekali sembarang kau menggunakan parangmu untuk memotong ranting sekalipun, paham kau!" Sambung sang ayah menekan tegurannya. 
⠶⠶⠶⠶⠶⠶⠶ 
Pagi menyambut, warna tanah masih tak terlihat gelap, cuaca dingin menusuk tulang, embun masih bergelantung menari-nari di dedaunan. Belakas, panah, tombak dan sejumlah tali ikat--tak boleh ada yang tertinggal. Tak lupa juga botol-botol tuak, ikan teri kering dan emping nasi, serta ubi untuk bekal perjalanan mereka. Seperti biasa, Bikan akan selalu mengingat ibunya yang selalu sibuk mempersiapkan bekal untuk mereka sebelum berangkat menuju hutan. Ibunya juga sering berpesan "ingat, Nak, setelah terkena kulit atau darah babi itu, segeralah kau bersuci, karena di agama kita mengharamkan dan juga bersipat nakjis mukallazah. Aku masih ingat apa doa bersuci bukan?" Bayangan itu segera ia lupakan, ia tak mau terlarut dalam kesedihan-kesedihannya. Toh, ibunya kini sudah bahagia di surga. 

Pagi menjelang siang, sebelum memasuki hutan, Marsini melakukan ritual puji agar segala urusan diperlancar. Kemenyan mulai ditaburi pada arang yang sudah kemerahan, juga dipersiapkan keminang tempat daun sirih, kapur, gambir dan tidak lupa buah pinangnya. Dipersiapkan juga benang putih sebagai bebet dalam ritual ini, setelah mantra-mantra selesai dibacakan, Ayep lalu mulai menaburkan beras pada jalan utama menuju hutan. Ritual semacam itu masih dipercayai dikalangan masyarakat Sekaroh. Tanpa ritual, mereka menyakini akan terkena bala sewaktu-waktu ketika akan memasuki hutan. Ia ingat persis pesan Amaq Anom "sebelum kita memasuki hutan; kita wajib berucap salam meminta pada sang hyang Maha Kuasa dengan melakukan ritual-ritual puji, karena kita sebagai manusia tidak hanya hidup sendiri, banyak makhluk ciptaan Tuan yang tak terlihat secara kasat mata, maka lewat ritual itu kita melakukan doa-doa agar segala kemudahan, pertolongan dan terhindar dari malapetakan di hutan ini serta segala niat kita diperlancar dan dipermudah segala urusannya”. Baginya, Amaq Anom bukan sekedar pemangku Adat, tapi jauh dari itu, ia adalah guru sekaligus Ayah bagi warga masyarakat di Sekaroh. 

Sudah setengah hari mereka menelusuri hutan. Pelor, Mirah dan Menjangan mulai mengendus-endus, sepertinya ini adalah hari keberuntungan bagi mereka. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, mereka pulang dengan tangan hampa, kesialan dan hanya rasa lelah yang dibawa pulang. Setelah ditelisik, ternyata Ayep tidak melakukan ritual seperti yang sudah diminta oleh kakaknya, setelah kepulangannya dari berburu waktu itu, Ayep mengakui kesalahan yang dilakukannya walau saat itu, rasa lelah masih bergelantungan diraut wajah mereka.

"Maaf kak, kesialan ini semua diakibatkan atas kesalahanku."


"Maksud kau, Yep?"


"Aku telah lalai dan abai terhadap ritual puji sebelum kita memasuki hutan kemarin, aku tidak melaksanakan ritual seperti yang kau perintahkan itu."


"Apa! Bukannya aku sudah menyuruh kau melakukannya waktu itu?"


"Sekali lagi maafkan aku kak, aku yang salah."


"Acong kau, ini sungguh keterlaluan, kau ini goblok atau bagaimana, hah. Itu hal wajib yang harus kita laksanakan sebelum memasuki hutan, lupa kau?!"


"Sekali lag maafkan aku kak, aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."


"Bajingan, pantas saja kita sampai berpuluh-puluh hari menyusuri hutan dan tak satupun buruan yang kita dapatkan, ternyata kau memang mengabaikan ritual peninggalan nenek moyang kita. Kelewatan kau ini, untung saja nyawa kau tidak ikut tertinggal disana, mulai besok, biar aku saja yang akan melakuakan ritual puji!"

Bikan hanya sebagai pendengar ke--dua orang tua yang sedang beradu mulut, rasa lelah dan kekecewaannya masih lebih terasa dibandingkan harus mendengar Ayah dan Pamannya beradu mulut. Ia lalu meninggalkan kedua orang tua yang masih berjibaku beradu mulut diruang tengah. Sepertinya, Ayah Bikan sangat marah ketika tahu bahwa; apa yang dilakukan adiknya itu bisa membahayakan nyawa mereka. Bikan lalu menuju ke kamarnya dan tertidur pulas dengan berbantal kelelahan yang terdengar dari dengkurnya. 
⠶⠶⠶⠶⠶⠶⠶
Di balik pohon Mahoni, Pelor dan Menjangan terlihat mencium sesuatu, ia lalu berlari sembari diikuti tuannya dari belakang. Ia melihat segerombolan babi dibalik semak-semak. Marsini lantas memerintah anjing-anjingnya segera mengejar sambil berlari menyusul. Sementara Ayep dan Bikan berlari menyilang, kelewang dan tombak sudah siap membidik tubuh babi hutan tersebut. Plaaaaaaak, tak ayal tiga babi hutan tewas diujung tombak. Ayep dan Bikan berlumuran darah, sepertinya mereka terlalu bergairah menusukkan tombaknya ke tubuh hewan itu sehingga wajah mereka tampak perciakan-percikan darah ikut menempel.

Mereka melanjutkan perburuan. "Kali ini kita akan pulang membawa hasil paman,"Bikan menyakinkan pamannya. Mereka berjalan membuntuti anjing-anjingnya. Namun langkah mereka terhenti di bawah pohon Lian. Pohon kramat yang sudah berumur sekian abad. Setelah didekati, dua kepala manusia berserakan di sana. Marsini, Ayep dan Bikan tak kepalang kaget. Siapa yang tega melakukan perbuatan iblis semacam ini? "Ini pasti Boro, kak ucap Ayep menyakinkan".

"Hus, jangan sembarang ngomong kau!"


Bikan juga tak ayal, ketakutannya sangat tampak, terlihat dari baju Ayahnya yang tak dilepaskan sedari tadi. 


"Sudah, Nak, sudah. Ayo cari sebagian tubuh mayat-mayat itu bersama pamanmu, kau ini laki-laki, dan kita orang Sasak. Jadi jangan jadi pengecut melihat hal semacam ini, Ayahnya menasehati".


Marsini lalu memungut kepala-kepala yang berserakan itu. Ayep dan Bikan sibuk menyibak semak-semak, lalu lalang mencari tubuh kedua kepala itu ditemani anjingnya. Selang beberapa menit, tubuh dari keuda kepala itu terlihat tergeletak dibawah semak belukar yang sepertinya sengaja ditutupi. Namun siapa yang mampu menandingi pencimuan Pelor, Mirah dan Menjangan?

Marsini adalah saksi kunci atas pembunuhan yang dilakukan Pak Sum waktu itu, dalam hati ia juga menyakini bahwa; pembunuhan ini juga ada kaitannya dengan Kades tersebut karena ke dua mayat ini adalah salah satu warga yang selalu mengkritisi kebijakan serta perbuatan Pak Sum yang selalu menjual tanah-tanah di Sekaroh. Marsini bahkan sangat mengenali kedua mayat itu, ia adalah Muksin dan Muksan yang kini kepalanya sedang ditenteng di tangannya.

Di balik pohon, sekitar pelemparan batu anak berusia dua tahun, Pak Sumenep beserta sejumlah warga memergoki ketiga laki-laki itu dengan dua kepala serta tubuh dimasing-masing tangannya. Tak ayal, ketiga laki-laki itu langsung menjadi bulan-bulanan warga, sebagian warga berpendapat "bagaimana jika ketiga laki-laki ini harus dibakar. Ini adalah perbutan seorang kafir, teriak warga lainnya, maka ia pantas dibakar hidup-hidup, sebagian warga juga berkata; "mereka ini keluarga pemakan babi, jadi darah mereka sudah halal untuk kita tumpahkan."


Emosi yang meluap-luap akhirnya menutupi sisi kemanusiaan mereka. Ketiga pemburu itu akhirnya terpanggang dibara api yang menyala-nyala. Sementara Pak Sumenep melukiskan senyuman terbaiknya di langit-langit sore itu.

Penulis: Hasan Gauk Kuantor Sastra Asal  Jerowaru, Lombok timur, Saat ini aktif sebagai anggota Gerakan Literasi Indonesia (GLI)

No comments

Powered by Blogger.