SEPAK TERJANG GURALIM

Sumber Gambar : hasangauk.wordpress.com
BERUGAK LOMBOK - Tepat pada hari Sabtu, tertanggal 7 Maret 1891 adalah hari bersejarah sekaligus hari pembalasan atas peristiwa berdarah yang memakan lebih dari 50.000 jiwa penduduk pulau Mirah. Pada tahun sebelumnya juga yang memicu dendam abadi dari penghuni tanah Mirah antara tahun 1855-1871 adalah peristiwa berdarah yang akan tetap diingat lagi oleh sejumlah masyarakatnya. 23 tahun lamanya dendam itu tetap dirawat hingga sampailah pada tahun 1891 hingga 1894 sebagai ajang pembalasan.

AKU sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan—tapi mereka masih terus mencariku bahkan sampai ke dalam mimpi. Aku sudah melakukan banyak hal untuk menghukum diriku sendiri, 25 tahun lamanya aku meninggalkan dunia persilatan dan mengubur diri dalam goa yang tak seorang pun akan mampu menemukanku jika ia tidak benar-benar menguasai aji penghilang rasa.

Setelah pengusiran penjajah dari tanah Mirah dan kemenangan yang diterima oleh seluruh penduduknya, maka tak ada guna lagi aku berkelana menampakkan diri di daratan tanah Mirah ini. Aku tidak ingin disebut sebagai pahlawan, aku bahkan tidak pernah menganggap telah melakukan apapun, ini sudah semestinya dan sudah menjadi kewajibanku untuk melawan dan mengusir para penjajah di tanahku sendiri. Sebelum aku menghilang, aku mengelilingi setiap sudut pulau Mirah untuk memastikan bahwa penjajah sudah benar-benar meninggalkan pulau ini, masuk hutan, goa, lembah hingga ke bekas-bekas benteng mereka untuk memastikan tidak ada lagi yang tersisa. Setelah aku memastikan semua benar-benar aman, aku memilih pergi untuk menyepi sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Sampai pada akhirnya, aku mendengar lagi kabar tentang penjajahan baru yang lebih dahsyat dan mengerikan. Selama penyepianku, aku hanya melatih ilmu batin yang mampu menciptakan berbagai jenis ilmu dan jurus baru. Salah satu ilmu yang santer terdengar di luar sana dan yang menjadi perbincangan para pendekar adalah ilmu penghilang rasa. Entah sebab apa, waktu itu aku seperti mengidam daging kerbau, 10 hari lamanya aku menahan diri untuk tidak keluar mencari seekor kerbau, aku menahan diri, tetapi bangsat betul, semakin aku menahan diri, daging kerbau bakar itu terus-terusan memburuku sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari tempat persembuyian memburu seekor untuk mengobati kemauanku itu. Di sanalah awal mula pertemuan dan pertempuranku kembali bersama para perampok yang melihat ilmu ciptaanku, dan sampai pada akhirnya. Semua pendekar baik dari golongan hitam, abu-abu, sampai golongan putih juga ikut memburuku. Aku bersembunyi bukan karena aku takut, tapi aku tidak ingin melihat mayat-mayat terus bertumbangan. Karena sampai hari ini, di umurku yang sudah menginjak 80 tahun ini, sudah sekian puluh ribu pendekar aku tewaskan. Ditambah lagi dengan sejumlah golongan Kebo Belang yang ingin menguasai tanah kelahiranku. Aku menyepi karena ingin menunggu kematianku dengan damai, tanpa ada percikan darah dan erangan-erangan minta ampunan.

Hampir 10 tahun lamanya Guralim meninggalkan kampung halamannya, ia bertekad akan mencari guru spiritual maupun yang bisa mengajarinya ilmu kanuragan. Sedari kecil, ia rajin membaca, baik lontar maupun kitab pusaka yang memang sudah diperuntukan oleh Ayahnya. Tapi tidak sekalipun orang tuanya pernah mengajarkan atau menyuruhnya berlajar ilmu kanuragan. Sampai pada suatu hari, di umurnya yang sudah beranjak dewasa ia pernah beberapa kali dipermalukan oleh sejumlah pemuda di kampungnya. Ia dipanggil dengan sebutan banci, kutu buku, dan keong. Namun yang paling ia benci adalah saat pemuda-pemuda itu menyebut dirinya dengan sebutan keong. Bagaimana tidak, simbol keong di tanah Mirah adalah simbol yang sempurna untuk panggilan pada orang-orang yang tidak berguna, lamban, pengecut, dan tidak bisa diandalkan. Semenjak kejadian itu, Guralim bertekad meninggalkan kedua orang tua dan kampung halamannya untuk mencari sesosok guru untuk membuktikan dirinya bahwa, ia tidak seperti apa yang dikatakan para pemuda di kampungnya itu. Di kampungnya, banyak perguruan silat, namun Ayahnya tidak pernah memberikan ijin padanya untuk sekedar menonton sekalipun.

Dalam pencariannya mencari seorang sosok guru, di perjalanan ia secara tidak sadar semakin kuat, tidak lagi mengeluh, bahkan tidak pernah merasa takut sedikitpun seperti sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan kampungnya. Ia banyak menyaksikan kekacauan yang tidak pernah dilihat sebelumnya seperti perampokan, begal, pembunuhan, pemerkosaan, dan penipuan. Untuk bertahan hidup ia pun bekerja diberbagai tempat, rumah bordil, warung makan, bahkan mengemis demi keberlangsungan hidupnya. Guralim kini jauh lebih kuat dari seorang yang biasanya dipanggil keong.

Guralim selalu mencatat dari setiap perjalanan menuju ke perjalanan selanjutnya, dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Ia seolah tidak ingin melupakan setiap detail dari apa yang dialami dan dilihatnya. Sampai pada suatu hari, ia menemukan seorang pengemis tua yang terkapar dipinggir jalan dekat pasar Cakrang tempat ia bekerja. Tak seorangpun yang perduli pada pengemis tua itu, ia melihatnya dari kejauhan, lalu menghampirinya. Dibawakannya sebungkus makanan, begitu selama tiga hari berturut-turut. Pada hari ke—empat, ia tidak menemukan lagi pengemis tua itu, menurut informasi dari mulut-mulut pengunjung tempat warung makan ia bekerja, pengemis tua itu telah mati kedinginan, seperti yang diingatnya semalam, hujan turun begitu deras disertai angin kecang. Mayat pengemis itu dibuang ke laut, begitu informasi yang terdengar.

Sudah tiga tahun lamanya ia bekerja di warung makan tersebut, Guralim akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempatnya berkerja, karena selama ia berkerja di sana, ia tidak mendapat informasi atau apapun terkait keinginannya itu. Kali ini ia akan menuju kesebelah utara, ke arah gunung Samalas, ia pernah mendengar sesosok orang tua yang sampai kini ilmunya tak tertandingi, namun menurut informasi lain, sosok itu hanya sebatas mitos dan cerita belaka.

Namu tekad telah dibulatkan, niat telah dituliskan, maka langkah harus segera dipijakkan. Tiga puluh hari perjalanan tidak menyurutkan niatnya, pagi-pagi sekali ia berangkat meninggalkan tempat kerjanya, dan menuju tanah Utara.

Di sore yang lembab di bawah kaki gunung Samalas, Guralim dilanda kelaparan, hampir tiga hari ia tidak makan, bekal yang dibawanya sudah habis dalam perjalanan. Dilihatnya dalam gumpalan yang dibawanya, ada pisau berukuran siku orang dewasa, dan berbagai macam bumbu yang dibawanya dari tempat kerjanya dulu. Menurut Babat Mengwi yang pernah dibacanya, ia pernah melihat dalam beberapa bab cara menangkap binatang liar di hutan. Guralim memang memiliki beberapa kelebihan, salah satunya adalah mengingat setiap apa yang pernah dibacanya. Dengan demikian, mulailah Guralim dengan menggali lobang dan menancapkan kayu-kayu yang sudah ditajami di bawahnya, di atasnya tidak lupa ia menaruhkan daun-daun untuk menutup permukaan lubang. Tentu lubang yang ia gali adalah tempat binatang liar seperti rusa, kerbau, sapi, babi, kambing, kuda, kelinci dan sejumlah binatang liar lainnya sering melintas. “Binatang mana yang tidak akan berbalik arah jika melihat rumput odot bertumpuk-tumpuk”, gumam Guralim sembari terus menyiapkan lubang berikutnya.

Tak sampai sehari, Guralim sudah mendapat buruannya, dua lubang mendapat mangsanya, kijang jantan dan satu ekor kerbau, sementara lubang satunya tidak mendapatkan hasil apapun. Setelah kulit kijang dan kerbau ia kuliti, Guralim bergegas membuat perapian, setelah perapian selesai, daging kijang dan kerbau ia potong seukuran bayi yang baru lahir. Lalu dipanggangnya di atas api yang menyala-nyala. Selama proses pemanggangan, Guralim diburu rasa kantuk, sepertinya ia terlalu lapar dan lelah karena melakukan aktivitas seharian, menggali lubang, menebang pohon, dan mempersiapkan jebakan. Dan pada akhirnya ia tertidur pulas sebelum mencicipi daging buruannya.

Burung-burung berkicau, embun masih menari-nari. Suara angin berpadu dengan rimbunan pepohonan, suara air terjun juga ikut meramaikan pagi itu. Sementara bara telah padam diselimuti gemercik embun malam, sisa bau daging bakar semalam bergentayangan menghampiri tidur Guralim. Ia pun terbangun, selain karena bau daging, lapar yang tak tertahan juga ikut membangunkannya.

Ia tertegun melongo, daging yang dibakarnya semalam tiba-tiba ludes di atas perapian. “Bangsat, siapa yang mencuri daging panggangku! Apakah ada orang lain di hutan ini selain aku?” Ia mulai curiga, diperiksanya jejak-jejak kaki yang sekiranya ia kenali, tapi tak satupun jejak ia dapatkan, “Kalau ini perbuatan binatang buas, ia tidak mungkin memakan daging yang sudah dibakar. Ini pasti siluman atau penghuni hutan ini”. Kini bulu kuduknya mulai berdiri, karena ia sebelumnya pernah mendengar, penghuni hutan di bawah gunung Samalas ini jauh lebih kejam dari binatang buas sekalipun. Tapi rasa lapar telah menghilangkan ketakutannya, diambilnya sisa daging yang masih tergantung di pohon Bunut. “Bajingan betul kau siluman, kalau kali ini kau datang lagi mencuri dagingku, maka kita akan lihat saja nanti”. Namun ia tidak benar-benar mengatakannya.

Pohon-pohon kering sudah menumpuk, api sudah menyala, dan bara siap menyambut. Kali ini, daging yang dipanggang sudah lengkap dengan sejumlah bumbu-bumbu andalan yang sengaja ia persiapkan sebagai bekal perjalanannya, barangkali insting seorang koki masih melekat padanya. Bau daging panggang kali ini jangkauannya jauh lebih luas, bau daging dengan sejumlah bumbu tentu akan mengundang siapapun untuk ikut mencicipi, dan angin ikut andil sebagai penyebar kali ini.

Gunansih, yang selama ini menyepi dan menghindari orang-orang di luar sana terpancing dengan bau yang sangat dikenalinya. Ia keluar dari goa dan menyusuri sumber yang diterbangkan angin tersebut. Ia loncat dari satu pohon ke pohon lainnya, tubuhnya ringan, melayang namun ia mampu mengarahkan tubuhnya ke manapun yang ia kehendaki. Sampai pada akhirnya, ia melihat sesosok pemuda yang sedap lahap-lahapnya memakan daging kerbau bakar tersebut.

“Ini—kan tempat semalam aku mengambil daging bakar itu, kok baunya tidak seenak ini semalam, apakah daging yang dipanggang pemuda ini berbeda?”.

Guralim tidak melihat bahkan merasakan sedikitpun ada orang yang diam-diam mengintainya. Barangkali karena lapar yang keterlaluan atau Gunansih yang terlalu sakti. Gunansih tak tahan melihat Guralim yang dengan lahap menyantap daging kerbau bakar tersebut, ia akhirnya turun dan membuat Guralin terkaget bukan kepalang.

“Lho, kau…”
“Iya, kita sebelumnya pernah bertemu anak muda, kau adalah satu-satunya orang baik yang aku temui waktu itu”
“Tapi…”
“Tapi apa, orang-orang mengatakan aku sudah mati kedinginan, begitu? Jangan terlalu percaya dengan sebuah cerita yang tidak pernah kau saksikan sendiri, itu berbahaya”
“Apakah kau adalah… eeeeee, saaaalah seeeeorang leeegenda yang seseselama ini aku dengar dari cerita masyarakat?”

Guralim yang terbata-bata, entah oleh rasa takut atau atas ketidak percayaannya pada sesosok pengemis yang pernah ia tolong waktu itu.
“Cahaya matahari memang selalu menuntun kita pada masa depan anak muda, dan kau tahu, angin sebagai salah satu pengantar pesan terbaik di bumi ini
“Namaku, eee…”
“Aku sudah tahu siapa kau, anak muda, namamu Guralim dan bekerja di warung makan itu selama tiga tahun, kau pergi meninggalkan kampung halamanmu untuk mencari sesosok guru, bukan?”
“Dadadari mamana Kakek tahu tentang cerita itu?”
“Rupanya kau tidak sejeli perkiraanku”
“Mamaksud, Kakek”
“Siapa penyampai pesan terbaik di bumi ini”
Kali ini ia sudah tidak gugup seperti sebelumnya, walaupu masih terbata-bata.
“Tatapi, bagaimana mungkin, aku bahkan tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang keinginanku itu, bahkan kepada kedua orang tuaku sekalipun ”
“Sudahlah, anak muda, besok sebelum fajar menyingsing temui aku di Goa Susu”

Gunansih pun berlalu dengan begitu cepatnya sampai Guralim tak menyadari bahwa ada yang telah datang menghampirinya, ia pun membawa sebagian daging bakar yang masih terpanggang diperapian. Guralim pun dengan keterpanaannya tak sabar menunggu pagi, tapi kemana ia akan mencari sang kakak yang akan dijadikan gurunya itu? Ia bahkan tidak tahu persis di mana letak Goa Susu yang dimaksud.

Sepanjang malam Guralim tak bisa terpejam, padahal kantuknya sudah tergantung diujung bulu matanya. Hatinya gusar, antara percaya tidak percaya dengan apa yang ia temui siang tadi. Tak pikir panjang, “dari pada aku nyasar besok dan tidak bisa menemui kakek itu, maka malam ini pun aku akan berangkat mencari goa tersebut dari pada aku harus menyesal seumur hidup”. Ia lalu mengemas barang-barangnya, dan memulai perjalanannya walau kebingungan terus membayanginya. Sebelum perpisahan itu, ia mendengar sayup-sayup suara dari kejauhan, “teruslah berjalan ke arah matahari terbenam dan kau akan menemui sebuah gunung yang dikelilingi air” begitu kira-kira suara yang dihantar angin ke telinganya.

Di perjalanannya, ia banyak menemukan binatang buas, ular-ular yang tiga kali lipat lebih besar dari ukurannya, sempat ia ingin mengurungkan niatnya untuk menemui sang kakek, “sudah sepuluh tahun aku menempuh perjalanan ini, jika karena ini aku mengurungkan niat, maka sia-sia perjalananku selama ini”. Begitu ia kembali membulatkan niatnya. Secara ajaib pula, ular dan binatang buas itu tak terlihat lagi.

Fajar akan segera menyingsing, Goa Susu belum juga ditemukan, semalaman ia berjalan menyusuri lembah dan hutan, dan rasa lelah sudah mulai tampak di raut wajahnya. Tenggorokannya kering karena semalam penuh ia berjalan, “aku harus mencari mata air, aku tidak mau mati payah sebelum keinginanku tercapai, aku belum mau mati”. Ia ingat pesan sang kakek, “teruslah berjalan ke arah matahari terbenam”. Ia melihat langit-langit, bulan dan matahari datang dan pergi dari satu rahim. “Maka kali ini, aku akan mengikuti ke mana arah bulan itu tenggelam”.

Di ufuk timur langit telah memerah, sebentar lagi fajar akan menyingsing. Itu pertanda waktu akan segera habis. “Cahaya matahari selalu menuntun kita pada masa depan.” Ia teringat kembali kata-kata kakek tua itu. Walau hawa dingin menguasai sekujur tubuhnya, ia terus melanjutkan perjalanannya menyusuri sebuah lembah dan melihat, gunung yang dikelilingi sungai. “Apakah ini yang dimaksud kakek tua itu? Semoga saja aku tidak salah.” Ia menyusuri sungai, dilihatnya setiap dinding tebing yang berlubang, ia memasuki, satu, dua tebing berlubang yang menyerupai goa-goa, tapi tak satupun ia temukan sang kakek di dalamnya. Sampai pada akhirnya, ia menyerah dan berhenti disebuah jalan buntu jauh dari gunung yang dikelilingi sungai itu, diamatinya tempat pemberhentiannya tersebut, dan ia melihat genangan air yang menyemburkan uap panas di atasnya, disebelah kanan ia melihat lubang kecil seukuran tubuh manusia di sana. Ia bersandar dan membasuh muka di kolam kecil dengan air yang cukup panas, “aku menyerah, kakiku sudah tidak sanggup lagi berjalan, aku menyerah pak tua, aku lelah”. Begitu gumamnya.

Guralim pun tertidur sembari menghangatkan kakinya di kolam kecil tersebut, matahari sudah tegak berdiri di atas kepala, bau daging kembali tercium, ia sangat mengenali bau tersebut. Ia terbangun dan melihat sesosok pak tua duduk disampingnya.

“Dasar keong, lamban sekali kau”

Sudah hampir sepuluh tahun ia tidak mendengar perkataan yang biasa ditujukan kepadanya itu, kalau saja pak tua itu tahu, itulah sebab ia meninggalkan kampung halamannya.
“Aku lapar, Kek, lapar sekali, tolong bagi sepotong daging saja”

“Ambil saja kalau bisa”

Guralim pun berdiri dan mencoba merebut daging dari tangan kakek tersebut, tapi bagaimanpun lincahnya Guralim, ia tetap tidak bisa menandingi kelincahan si kakek itu. Kakak tua itu lalu melompat dari batu satu ke batu lainnya, dari tebing ke tebing berikutnya, dan Guralim dibuat menyerah pada sebuah padang savana yang begitu luas.

“Haha, kalau kau benar-benar lapar, maka kau pasti bisa merebut daging ini, anak muda” sang kakek mengejek. “Apakah begitu saja kemampuanmu, hah. Hahaha” ia kembali tertawa.
“Sialan tua bangka ini, dia mengerjaiku” dalam hati ia mengumpat.

“Dasar payah kau ini”.

Guralim harus mencari cara agar kakek tua ini mendekat, “aku tidak bisa menandingi kelincahannya, maka aku harus mencari cara lain agar ia bisa mendekat, maka dengan cara itu, aku akan bisa merebut daging itu”.

Padang savana yang luas, yang terhampar sepanjang pengelihatan hanya rumput menjulang tinggi, Guralim duduk dan mengepalkan kedua tanggannya sembari menempelkannya dimuka mulutnya, ia seolah-olah seperti sedang memakan sesuatu.
“Hei kakek tua, aku sudah tidak menginginkan dagingmu lagi, aku sudah menemukan makanan yang jauh lebih lezat dari daging kerbau bakar itu”

Teriaknya sambil mengangkat kepalan tanggannya.

“Haha, kau jangan ngacau, tidak ada satupun makanan di padang rumput ini, kau jangan coba-coba menipuku”
Guralim balik tertawa, “haha, dasar orang tua bodoh, makanan seenak ini saja kau tidak tahu, ke mana saja kau , pak tua”.

Gunansih terdiam, ia mengingat dua puluh lima tahun ia mengurung diri dalam goa, sesekali ia keluar berburu.

“Aku boleh tahu apa yang sedang kau makan itu anak muda?”
Mmm, sepertinya si tua ini sudah mulai terpancing. “Aku yakin, seumur hidupmu, kau pasti belum pernah memakan makanan seenak ini, pak tua”.

Gunansih adalah seorang yang tidak bisa dibuat penasaran, ia harus mengetahui segala sesuatu yang membuatnya penasaran, ia akhirnya mendekat, dan Guralim selayaknya orang yang sedang makan sesuatu, lidahnya terus dimainkan di pipi sebelah kanannya, ia sengaja menonjolkan pipinya yang sudah didorong dengan lidah melewati graham atas dan bawahnya. Si kakek tua itu semakin mendekat dan percaya, setelah ia sangat dekat dan terpana dengan ucapan Guralim, kakek tua itu lupa dengan daging panggang di tanggannya, dengan cepat gerakan tangan Guralim menyambar daging bakar ditanggannya. 

Hahaha, ternyata kau tertipu, pak tua, aku mungkin tidak akan pernah bisa mengalahkan kelincahanmu, tapi akal jauh lebih hebat dari ilmu kanuragan manapun.

Sejak saat itu, Guralim diangkat menjadi murid Gunansih, ia belajar dengan sangat tekun, karena kecerdasannya, ia sudah menguasai sembilan puluh persen ilmu yang diberikan gurunya, ia kini memadukan kedua ilmu tersebut, ilmu pengetahuan dan ilmu kanuragan. Dan inilah yang disebut perayaan dari masa depan. Sedari kecil ia membaca buku, dan kali ini ia benar-benar bisa memetik hasil dari apa yang dipaksakan orang tuanya waktu itu.

Ilmunya kini tak tertandingi, sudah banyak perampok, begal dan sejumlah kejahatan ia basmi, orang-orang di kampung kini sangat menghormatinya, dan ilmu kanuragan yang ia miliki itu kini ia sebarkan lewat kitab yang ia tulis, tidak hanya tentang ilmu kanuragan, ia juga banyak menulis tentang berbagai bidang ilmu lainnya, ia juga menuliskan tentang berbagai macam tata cara kehidupan serta petuah-petuah hidup untuk menjalani kehidupan yang jauh lebih baik, alasannya cuma satu, agar seluruh masyarakat mampu melindungi dirinya dari semua kejahatan dimuka bumi serta dapat menciptakan kedamaian, kitab yang ia tulis telah tersebar ke seluruh tanah Mirah, dan masyarakat menyebutnya Negarakertagama.

Penulis: Hasan Gauk Kuantor Sastra Asal  Jerowaru, Lombok timur, Saat ini aktif sebagai anggota Gerakan Literasi Indonesia (GLI)

No comments

Powered by Blogger.