BENCANA KEMANUSIAAN ADALAH TANGGUNG JAWAB LINTAS KEYAKINAN


Akhir-akhir ini, banyak sekali informasi Hoax yang bertebaran di Lombok yang dengan mudah dikonsumsi masyarakat luas. Hoax tidak mengenal batas usia, baik mereka adalah masyarakat terpelajar maupun tidak, justru yang seringkali menjadi sasaran Hoax adalah mereka yang terdidik. Padahal, masyarakat berharap banyak pada mereka yang sepantasnya mengcover berbagai macam isu-isu tidak benar. Namun Hoax akan selalu menggoda untuk dibagikan kebanyakan orang demi eksistensi media sosial. Hoax hanya akan tumbang oleh sebagian orang yang mau berpikir, menyisihkan 20% otaknya untuk mau mencari kebenaran berita tersebut tanpa klik lalu share.

Di Lombok hari ini isu politik dan Agama adalah ranking teratas, padahal data 2017 mengatakan Android menguasai pasar sejagat raya, tak terkecuali Lombok. Apakah mereka tidak mencari tahu validitas kebenaran info-info yang menyebar terjun bebas ke mereka? Hanya Tuhan dan Android yang tahu. 

Gempa Lombok sring kali diisukan dengan politik, namun yang paling menyakitkan bagi kami masyarakat Lombok adalah ketika isu Agama dapat dengan mudah ditelan masyarakat luas.

“PENGUMUMAN"

Kepada saudara kaum muslimin di manapun berada, kami relawan memohon bantuan kepada saudara seiman yang mempunyai teman/guru ahli di bidang psikologi atau siapapun yang bisa memberikan trauma healing untuk anak-anak korban gempa di Lombok (NTB). 

Demi menjaga aqidah anak-anak kita mohon dengan sangat untuk diminta meluangkan waktunya ke daerah terdampak gempa khusunya KLU. 

Di sana anak-anak korban gempa oleh para misionaris diajarkan lagu-lagu rohani nonis sebagai lagu untuk trauma healing mereka. Ini upaya mereka untuk murtadkan umat. 

"Tolong bantu viralkan"

Itu salah satu pengumuman yang disebarluaskan melalui grup-grup WA, dan Fb. Dari WA, dan grup-grup yang kita ikuti banyak sekali informasi semacam ini berseliweran, padahal yang membagikan itu adalah mereka yang kita anggap matang dalam segi berpikirnya. 

Menanggapi isu yang viral akhir-akhir ini di media sosail, yakni tentang “kristenisasi” di pengungsian kami tegaskan bahwa, informasi semacam itu Hoax, kami dari Berugak Lombok yang fokus membantu masyarakat dalam bidang trauma healing memiliki relawan dari berbagai lintas disiplin ilmu, suku, dan agama. Kami dari Berugak Lombok ingin memberikan kesaksian bahwa ada tiga posko yang kami kelola; (1) Posko Merah Putih : diisi oleh pengungsi muslim 100%, (2) Posko Villa Tebango : Muslim 74% dan non Muslim 26%, dan (3) Posko Tebango : Budha 81% dan Muslim 19%. 

Selama proses pendampingan terhadap para korban terdampak gempa, kami bekerjasama dengan baik dan saling menghormati berdasarkan keyakinan masing-masing. Sebab bencana Lombok-Sumbawa adalah bencana kemanusiaan. Semua lintas agama, aliran, organisasi, etnik yang terdampak gempa hidup dalam damai dan saling menguatkan di tenda-tenda pengungsian. 

Dalam berbagai kegiatan yang kami lakukan, teman-teman pengungsi Budha bekerjasama dengan sangat baik dengan pengungsi Muslim. Bahkan untuk urusan ritual keagamaan seperti mengajar mengaji bagi adik-adik yang muslim di tenda pengungsian, teman-teman pengungsi Budha dengan suka rela ikut mengatur posisi duduk adik-adik agar kegiatan mengaji dengan khidmat. Kami tidak menemukan masalah, sebeb kami saling menghargai. 

Adapun terkait isu Kristenisasi yang mendadak viral di media sosial, perlu kita croos-chek dulu kebenarannya. Apakah itu benar-benar terjadi, sekedar kabar burung, atau Hoax yang sengaja diviralkan. Mari kita bertabayuyun agar mendapat informasi yang valid dan akurat. Tentu dengan tujuan agar isu tersebut tidak menyulut masalah baru di tengah derita bencana gempa yang belum benar-benar usai. 

Jikapun hal itu terjadi, (‘’) maka hal itu harus ditempatkan sebagai suatu kasus tertentu. Kita perlu mengkaji duduk perkaranya agar kita terhindar dari over-generalisasi terhadap saudara-saudara kita yang non-Muslim. Karena jika isu ini terus menerus dibakar, kita khawatir akan menyulut emosi dan amarah antar sesama. Sebagaimana kita tahu bahwa relawan yang datang ke Lombok bukan hanya relawan Muslim, tapi lintas Agama. Maka dengan demikian, mari kita cermati kesahihan berita yang kita terima, jangan begitu mudah terprovokasi. Sebab rasa kemanusiaan adalah pengikat diantara kita. Kita tetap pada prinsip saling menghargai keyakinan, dan berharap semua pihak untuk arif dalam menyikapi segala isu. Semoga kita terdindar dari segala bentuk saling menista antar sesama anak bangsa. Kita berbeda dalam keyakinan, namun kita sama dalam rasa kemanusiaan.

#Lombokbangkit

LOMBOK BANGKIT

Oleh : Said Mohammad

No comments

Powered by Blogger.