Ada Pesan Yang Harus Disampaikan (Bagian 1)



Udara pagi di pedesaan masih terhirup segar, kicau burung Cendet pada ranting pohon menambah suasana pagi semakin damai, juga kesibukan orang-orang desa yang siap berangkat ke sawah. Pukul enam pagi, aku dibangunkan Ibuku, terlihat ditangan kanannya menenteng segelas kopi, aku dan beberapa warga masih tidur di sebuah tenda. Kami tidak sedang berada di pantai atau di gunung, namun tenda kami dirikan di halaman rumah masing-masing, ada juga yang berkumpul di lapangan. Kami tidak sedang bertamasya, atau mengikuti kegiatan jambore pramuka. Kami masih mengungsi, menghindari amukan gempa yang terus bertubi-tubi. Embun masih terlihat bergelantung di dedaunan, dingin pagi membuat kopi buatan istriku, eeeh. Ibuku semakin terasa nikmat. 

Jam menunjukkan pukul delapan, setelah selelai sarapan. Aku mulai berkemas, menyiapkan puluhan buku dan beberapa perbekalan lain. Laju sepeda tua kuarahkan ke wilayah Selatan. Aku sampai di wilayah Sekaroh pukul sembilan, anak-anak sedang bermain, yang laki asik dengan bola di kakinya, sementara anak perempuan sedang asik bermain pasir. 

Ahmad, begitu panggilan akrabnya. Dia menceritakan bagaimana pengalamannya selama kurang lebih empat minggu berada di wilayah Selatan sebagai relawan. Ia yang hanya menyelesaikan sekolahnya sampai kelas dua SMA harus berani mengambil alih posisi menjadi guru alternatif. Pengalaman kursus di Pare Jawa Timur selama setahun Ia praktekan. Juga keahliannya sebagai tour guide membuatnya tidak terlalu kesulitan. 

"Apa yang kamu bawa?" pungkasnya melihat kedatanganku. Spontan aku menjawab "cerita." Ia lalu tersenyum sembari memelukku. Dia banyak bercerita bagaimana kondisi serta pengalamannya mengajar, sementara aku hanya diam mendengar sambil sesekali tertawa kalau ada satu--dua ceritanya yang lucu. 

Azan zuhur telah dikomandangkan, kami lalu bergegas ke tenda, tepatnya mushola yang dibangun warga dari anyaman daun kelapa. Setelah selelai melakukan ritual wajib, kami melanjutkan dengan agenda makan bersama. Ikan, dan beberapa lauk lainnya cukup menggoda untuk dilewtkan. Wajah-wajah kuat, bahagia, dan senyum anak-anak membuatku melahap kenikmatan makanan siang itu. 

Pukul dua siang, telpon genggam berdering beberapa kali, setelah kuperiksa, Supiandi. Ia dan beberapa tim relawan dari Berugak Lombok sudah berada di lapangan Desa Sugian Kecamatan Sambalie. "Kami tunggu, ada beberapa hal penting yang harus kita bicarakan bersama tim!" telpon lalu dimatikan, melihat jarak antara Sekaroh dan Sambalie sempat membuat nyaliku menciut. "apakah ini akan terkejar?" aku menggumam. 

87,3 km, berarti akan ditempuh dalam waktu dua jam tiga puluh menit, sementara jam sudah menunjukkan pukul dua lewat, namun setelah membayangkan wajah Qori, Hayi, Adib, dan beberapa senyum anak-anak di Sambalie membut jarak bukan lagi masalah. Aku lalu pamit pada Ahmad, warga dan anak-anak, wajah mereka seperti enggan melihatku pergi. 

Laju ke Utara, suasana jalan raya cukup senggang, tentu aku menggiring laju motor layaknya pembalap F1 yang harus sampai pada garis finish. 

Setelah memasuki kawasan Labuan Lombok, motorku seolah tak bisa berlari kencang, aku menyaksikan bagunan sepanjang jalan terkapar, rumah-rumah luluh lantah, tenda-tenda berjejeran sepanjang jalan, di lapangan, di persawahan, halaman sekolah, dan lahan-lahan lainnya. Sesekali aku berhenti mengobrol bersama masyarakat terdampak, senyum tersirat di wajah mereka, tidak ada keluh, tidak ada kebencian yang terlontar, dan tidak ada ucapan siapa yang disalahkan. Mereka menerima, mereka tersenyum, keriput tua di wajahnya menceritakan bahwa, mereka bahagia dengan ujian ini. "Kami telah dipilih Tuhan, karena Ia tahu, apakah kami kuat atau tidak, tapi kau bisa lihat sendiri kalau kami memang pantas untuk dipilih." ucap salah seorang yang kira-kira umurnya enam puluh tujuh tahun. 

Aku sampai di lapangan Desa Sugian pukul lima lewat, lalu mengikuti diskusi, setelahnya, aku menemuai anak-anak, berbincang dan bercanda, dari raut wajah mereka berucap, "jawaban kami sama dengan seorang kakek yang kau temui dalam perjalanan ke sini tadi!".


Oleh : Hasan Gauk

No comments

Powered by Blogger.