Benarkah Pariwisata Sebagai Sumber Bencana?


Saya akan memulai cerita ini atas dasar kecintaan saya terhadap bumi paer Lombok. Begitu juga dengan orang-orang yang akan selalu mencintainya. 

Apakah saudara pernah mengingat atau mendengar berita atau cerita-cerita dari kakek atau emah buyut mengenai bencana terbesar sepanjang sejarah yang pernah terjadi di Lombok? Kalau saudara pernah, pada tahun berapa hal itu terjadi, dan apakah penyebabnya adalah pariwisata seperti yang kebanyakan orang hari ini katakan bahwa penyebab utama dari sebuah bencana adalah karena banyaknya tempat maksiat (baca: tempat wisata), tuduhan-tuduhan semacam itu seringkali membuat hati saya sebagai pelaku wisata ngilu. 

Baiklah, silahkan cari di google angka yang saya terakan di sini, ‘’1257,’’ angka tersebut akan membawa Anda pada sebuah negeri yang terkubur. 

Kita semua pasti sepakat ketika diajak memerangi maksiat, siapapun akan sepakat, karena sependek pengetahuanku, agama-agama melarang umatnya terkait hal itu. Tetapi mari kita berfikir dulu sembari mencari refrensi dari sumber dan dalil yang jelas jika memponis aktifias wisata dan sarana penunjang pariwisata sebagai sumber bencana. Karena itu, kita perlu banyak belajar, banyak bertanya kepada ahli agama sehingga kita tidak tersesat dengan apa yang kita yakini, padahal apa yang kita yakini itu belum tentu kebenarannya, hanya Allah yang maha mengetahui. 

Mari kita biasakan membaca untuk mencari tahu info yang lebih luas terkait perkembangan industri pariwisata dunia. Semua negara yang memiliki alam dan keanekaragaman hayati serta warisan buadaya berlomba-lomba mengembangkan dan membangun industri parwisata. Tidak mengenal negara Islam maupun non islam, yang ada hanya mejalin kerjasama bilateral antar negara dalam mewujudkan kemakmuran negara dan rakyat melalui sektor pariwisata. 

Negara-negara islam justru banyak menjadikan pariwisata menjadi prioritas pembangunan untuk mendongkrak prekonomian negara mereka, salah satunya adalah Negara Uni Emirat Arab. Sadar akan sumberdaya alamnya berupa minyak sudah menipis bahkan mau habis, negara tersebut dalam kurun waktu 15 tahun terahir fokus mengembangkan infrastruktur pariwisata. Siapa yang tidak mengenal Dubai yang memiliki daya saing pariwisata yang sangat tinggi dan telah dikunjungi 14 juta wisatawan dalam setahunnya. Banyak negara islam bahkan seperti Malaysia, Turki , Mesir, Maroko, Arab Saudi dan banyak negara ilsam lainya juga menajadikan industri pariwisata sebagai sumber terbesar penghasil devisa negara dan untuk memakmurkan rakyatnya. 

Kita tidak perlu bicara jauh-jauh ke Dubai sana, cukup kita berbicara tentang negara tetangga kita yaitu Negara Malaysia yang merupakan negara islam. Pada tahun 2017 Malaysia di kunjungi 25,9 juta wisatawan dan pada taun 2020 menanrgetkan wisatwan datang ke Malaysia sebanyak 36 juta wisatawan asing. Itu artinya, menjadi lucu ketika kita berteriak ingin memerangi maksiat dengan menyetop segala bentuk aktifitas yang berbau pariwisata. Kita adalah negara hukum yang memiliki dasar sebagai petunjuk mengambil sebuah tindakan. 

Negara lewat Undang-undangnya sudah mengatur tentang kepariwisataan yaitu UU no 10 tahun 2009, di sana sudah jelas di atur tentang pariwisata dengan lugas. Jadi tidak ada alasan bagi siapapun yang ingin menghentikan orang untuk berkarya memlaui bidang kepariwisataan. Berwisata adalah bagian dari Hak Asasi Manusia, karena itu tidak ada alasan bagi sipapun menghambat apalagi mencegat orang-orang yang sedang melakukan perjalanan selama mereka tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma yang ada. 

Kita tinggal di negara hukum, karena itu jelas kita tidak boleh bertindak semau kita dengan mengatasnamakan apapun. Jika ada yang salah maka tugas kita bersama meluruskanya dan jika ada yang belum sempurna maka tugas kita untuk menyempurnakanya. Bukan dengan melakukan provokasi untuk merusak barang yang tidak berdosa, jika kita mengaku sebagai orang yang beriman mari kita sama-sama duduk bersama. Saya yakin dan percaya ajaran islam itu tidak mengajarkan kekerasan kepada umat manusia, apalagi melakukan kekerasan kepada saudara sendiri yang seiman dan seagama. 

Bencana sudah ada yang atur, tinggal bagaimana kita menselaraskan kehidupan ini dengan alam, manusia dan Tuhan. Bencana itu banyak penyebabnya, panas bumi tidak akan pernah berkhianat, pemerintah yang korup, anak durhaka pada orangtuanya, gunung-gunung dilubangi, hutan digunduli, seorang ustad memperkosa santriwatinya, manusia lupa berbagi pada saudaranya, dan masih banyak lagi penyebab lainnya. 

Pariwisata adalah salah satu jalan ke luar dari derita kemiskinan, tinggal bagaimana kita mengemas dan memperbaiki sistemnya. 

Penulis : Royal Sembahulun, seorang pemuda yang memiliki cita-cita untuk mensejahterakan setiap masyarakat di sekitarnya.

No comments

Powered by Blogger.