ROCKY GERUNG BERTANDANG KE PULAU SERIBU MASJID

Gambar: antaranews.com
Saya membaca melalui berita daring dan media sosial, bahwa kedatangan Rocky Gerung (RG) ke Lombok untuk sebuah acara talkshow "Eksistensi Melahirkan Perubahan" yang akan digelar di Hotel Aruna Senggigi Sabtu (9/3) menuai kontroversi. Sebagian masyarakat menolak sembari menggelar demo, dan sebagian yang lain menyambut dengan antusias dan siap mengawal acara tersebut. Di Lombok, barangkali seperti halnya di tempat-tempat lain, sejak 2014 isu politik telah mendominasi percakapan sehari-hari masyarakat. Setidaknya hal itu dapat diteropong melalui konten-konten di media sosial. Bahkan keterlibatan kalangan “arus bawah” dalam perbincangan politik di media sosial lebih massif ketimbang “arus menengah-atas”.

Dengan demikian, dalam konteks itu, maka pilpres telah menjelma budaya pop. Ia menjadi santapan sehari-hari para warganet. Ya, sejak dulu kita memang telah familiar dengan jargon indoktrinasi: “demokrasi adalah pesta rakyat”. Meskipun pada kenyataanya, bahwa siapapun pemenangnya pada 17 April nanti, "pesta rakyat akan berhenti, dan pesta pora para elit akan tiba". 

Sejak RG kerap manggung di gelar wicara ILC TVOne, ia mendadak populer. Lalu oleh para penggemarnya, ia ditahbiskan menjadi “presiden akal sehat”. Ia benar-benar menjadi idola banyak orang. Popularitas RG telah turut menyeret “ diskursus filsafat”—dalam pengertian yang longgar--, menjadi konsumsi publik. Sebab melaui mulut RG, masyarakat menjadi akrab dengan gaya bicara yang “retoris, kritis, silogis dan logis”. 

Diantara sekian banyak tema ILC yang di mana RG hadir sebagai narasumber dan terlibat dalam perdebatan, pada ujungnya dia selalu tiba pada dua kata pamungkas, yakni “dungu” dan “akal sehat” . Dua kata itulah kemudian yang menjadi legasi terbaik RG kepada para penggemarnya., termasuk sebagain masyarakt Lombok. Sehingga dalam debat-debat kusir perihal pilpres di media sosial, para penggemar RG selalu menuduh lawan debatnya sebagai dungu, dan hanya merekalah yang memiliki akal sehat. 

Sebetulnya , RG sudah sejak lama kerap merafal mantra “akal sehat” itu. Yakni sejak di kelas–kelas filsafat yang diampunya di UI Jakarta. Jargon akal sehat ini kemudian mulai mengemuka di ruang publik secara lebih luas ketika RG bergabung di Partai serikat Rakyat Independen (SRI) yang berdiri pada 22 Mei 2011. Tak tanggung-tanggung RG menempati dua posisi penting dalam partai itu; yakni Anggota Majelis Pertimbangan Partai (besama dua nama bekan lainnya: Rahman Tolleng dan Toding Mulya Lubis) dan ketua bidang Pendidikan dan Politik. 

Dalam sebuah perdebatan kala itu di sebuah stasiun televisi, RG tampil sebagai delegasi parta SRI berhadapan melawan Rizal Ramli. Dalam debat itu RG banyak menggunakan diksi politik akal sehat dan politik intelektual untuk mencitrakan Partai-nya. Partai SRI saat itu mengadang-gadang Sri Mulyani sebagai kandidat calon Presiden yang akan diusung pada pilpres 2014. Rizal Ramli sebagai lawan debat RG agak meragukan, dan sedikit pesimis pada gagasan dan masa depan partai baru itu. Akhirnya Rizal Ramli terbukti benar. Dan tentu saja jargon akal sehat gagal populer. Sebab Partai SRI akhirnya gagal tiba di musim semi, dan layu sebelum berkembang. Justru Jokowi–lah yang tiba-tiba mucul di 2014, dan berhasil melenggang ke Istana. Barangkali Rocky sadar, bahwa kegagalan itu disebakan oleh wacana kepartaian yang agak elitis dan intelektualis, sehingga gagal populis. 

Dalam konteks dan situasi politik yang lain, RG menemukan momentumnya. Menjelang piplres 2019 Jargon akal sehat ia pakai kembali dalam setiap forum yang dihadirinya. Dan percobaan kali ini ternyata berhasil. Jargon akal sehat menemukan garis takdirnya, mekar merona. Ceramah-ceramah Rocky yang dulu hanya berlansung di ruang-ruang kelas dan forum diskusi di Jakarta yang elitis, kini segmennya meluas, ia ceramah di acara-acara PKS, Kampus-kampus Muhammadiyah, bahkan hingga ke daerah-daerah di pondok-pondok pesantren. 

Lalu pertanyannya: apa yang menyebabkan orang begitu menggandrungi RG beserta jargon akal sehatnya? Tentu banyak yang akan menjawab: karena kelincahan gaya bicara dan diksi-diksinya yang memukau. Jawaban itu cukup fair, dan kita bisa menerima alasan itu. Namun, hal itu bukanlah faktor satu-satunya. Faktor lain yang lebih dominan adalah—meminjam bahasa Lacan—adanya “fantasi fundamental” masyarakat. Artinya, dalam konteks pilpres terdapat relasi subjek-objek, yakni pemilih dan yang akan dipilih (paslon capres). Fantasi fundamental itulah yang menjadi prakondisi narasi kebenaran pengetahuan rasional tentang objek hasrat yang diyakini secara irasional, bahkan sentimental. Sehingga, fantasi fundamental ini dapat memungkinkan satu objek menjadi memliki “nilai hasrat” untuk diperjuangkan mati-matian. 

Sederhanya begini, masyarakat sebagai subyek, Prabowo-Sandi sebagai obyek. Fantasi fundamental masyarkat tentang Prabowo-Sandi adalah pasangan calon pemimpin ideal yang pro ummat Islam. Sehingga fantasi fundamental itu menghadirkan ‘nilai hasrat’, yakni memilih Prabowo-sandi adalah “demi kejayaan ummat dan kemenangan Islam”. Oleh karenanya, bagi sebagian orang, Prabowo-Sandi layak diperjuangakn mati-matian. Dalam kaitan itu, sebetulnya masyarakat hanya sedang menikmati fantasinya sendiri atas objek (Prabowo Sandi) demi memenuhi kehendak libidinal (hasrat akan kemenangan Islam). 

Maka, dalam persfektif Lacanian, “fantasi fundamental” itulah sebetulnya yang membuat cukup banyak masyarakat Lombok antusias menyambut kehadiran RG. RG oleh sebagain besar pendukung Prabowo dianggap sosok yang mampu mewakili hasrat, aspirasi dan harapan mereka dalam konteks pilpres 2019. Namun demikian, dalam konteks ini, RG bukanlah tujuan akhir (the ultimate goal), justru kemenangan Prabowo-lah sebagai tujuan akhir. Pada titik itu, maka kemudian euporia masyarakat, khususnya di Lombok terhadap RG adalah semacam “euporia semu”. Hal itu dapat diuji “jika” seandainya April mendatang Prabowo berhasil memenangi pilpres. Dan sebagaimana telah dikatakan RG bahwa ia akan mengkritik Prabowo 12 menit setelah ia dilantik. Jika RG menepati janjinya untuk mengkritik Prabowo sekeras-kerasnya seperti ia mengkritik Jokowi hari-hari ini. Maka masih mungkinkah dia akan tetap diidolakan oleh para pendukung Prabowo? 

Soal lain yang berkait dengan fenomena kedatangan RG ke Lombok dan pilpres 2019 adalah bagaimana posisi dan otoritas para figur lokal trio Nahdliyin: NW Pancor, NW Anjani, dan NU di Lombok? Mampukah mereka memengaruhi massa di arus bawah untuk memenangkan Jokowi di Pilpres 2019 di Lombok? Sebab dalam pengamatan di media sosial-- meskipun hal ini tentu tak bisa dijadikan alat ukur pasti-- bahwa militansi para pendukung Prabowo masih cukup kuat di Lombok. Jika Prabowo kembali menang seperti di 2014 lalu, maka hal ini menunjukkan kemenangan media sosial dan aktor-aktor endors politik semacam RG, Neno, babe Haikal atas otoritas figur-figur lokal NW dan NU. 

Tulisan ini tidak akan menyimpulkan apa-apa, tapi hanya akan menyisakan tanya: “akal sehat” has become political, and when will politics become more “akal sehat”?

Penulis: Said Muhammad, Intelektual di Berugak Lombok

7 comments:

  1. Bravo ustazd Said. RG katakanlah telah mempolitisir akal sehat, maka tugas para pemikir seperti ustadz sendirilah yg harus Mengakal Sehatkan politik, melalui pendidikan yg terbuka, cerdas dan berkelanjutan.

    ReplyDelete
  2. Narasi yg menarik dan renyah untuk dikonsumsi oleh publik dan dikemas dalam bahasa yg lugas dan mantap.bravo kanda said muhammaM

    ReplyDelete

Powered by Blogger.